Ulasan Tentang Coal Country

Ulasan Tentang Coal Country

Coal Country menjadi salah satu film terhebat di tahun 2009. Ini bukanlah film laga yang memberikan aksi-aksi hebat kepada penontonnya. Ini lebih tentang film untuk memicu kesadaran tentang apa yang terjadi di pertambangan batu bara. Film ini menunjukkan bagaimana penambangan batubara bekerja dan bagaimana penambangan tersebut membawa dampak buruk bagi masyarakat, bahkan lingkungan tempat penambangan batubara tersebut. Film ini menampilkan tragedi dan semua hal ditampilkan dalam alur cerita dan aksi yang hebat, dan ini membuat film ini mendapat beberapa penghargaan untuk karya-karya hebat yang ditampilkan di film. Film ini berbicara tentang penambangan batubara di Appalachia, Virginia. Film ini ingin fokus pada penggunaan MTR sebagai metode penambangan batubara. MTR atau Mountain Top Removal adalah salah satu metode modern dalam penambangan dan ini adalah cara penambangan yang cepat. Bisa cepat karena permukaan gunung hancur sehingga penambang bisa dengan mudah mengambil arang. Ini dapat memberikan produksi yang lebih tinggi dan ini lebih efektif.

Dalam film ini terlihat betapa efektifnya metode tersebut. Perusahaan bandar bola bekerja sama dengan perusahaan batubara bisa mendapatkan deadline produksi dan profit. Namun, film tersebut juga menunjukkan fakta bahwa MTR adalah metode penambangan yang buruk. Menghancurkan permukaan gunung membawa dampak yang sangat buruk. Sementara batu bara menghasilkan polusi, metode penambangannya juga menghasilkan polusi. Daerah di Appalachia terpapar polusi akibat dampak ledakan MTR. Udaranya buruk dan rasanya seperti mengalami hari-hari yang gelap. Kemudian, kondisi air juga buruk karena sumur dan airnya tercemar. Bagi perusahaan tambang batu bara, MTR memberikan mereka proses produksi yang cepat, namun berdampak buruk bagi masyarakat.

Tentang Coal Country

Itulah yang coba ditampilkan film itu. Film tersebut mencoba menggarisbawahi ancaman lingkungan yang diekspos oleh penambangan batu bara, terutama MTR yang digunakan untuk menambang batu bara. Cara ini berisiko dan berdampak buruk bagi masyarakat, lingkungan, bahkan kondisi politik. Gara-gara film ini, banyak terjadi demonstrasi terkait penambangan batu bara dan banyak aktivis yang terpicu untuk bergerak melindungi hak-hak penambang batu bara dan masyarakat sekitar tambang. Nyatanya, ini seperti dua sisi mata pisau. Bagi para penambang, mereka terpapar polusi dan masalah kesehatan lainnya, tetapi mereka juga tidak dapat berbuat banyak karena kehidupan dan keluarga mereka bergantung pada industri pertambangan batubara. Bagi negara sendiri, batu bara masih dibutuhkan untuk pembangkit listrik, meski berdampak buruk di banyak aspek. Film ini mencoba menyadarkan masyarakat yang menonton Coal Country.

Ant-Man and the Wasp: Quantumania
Blog Film Review

Ant-Man and the Wasp: Quantumania

Marvel Cinematic Universe (MCU) telah menghadirkan begitu banyak pahlawan super dengan kekuatan dan keterampilan yang berbeda. Salah satu yang paling unik adalah Ant-Man, yang diperankan oleh Paul Rudd, dan Wasp, yang diperankan oleh Evangeline Lilly. Dalam film terbaru mereka, “Ant-Man and the Wasp: Quantumania,” kita akan menyaksikan petualangan baru yang membawa kita lebih dalam ke dalam dunia kuantum. Artikel ini akan mengupas apa yang dapat diharapkan dari film ini dan mengapa para penggemar sudah sangat menantikannya. Kembalinya Ant-Man dan Wasp Setelah penampilan terakhir mereka dalam “Ant-Man and the Wasp” pada tahun 2018, Ant-Man dan Wasp kini akan kembali ke layar perak. Paul Rudd akan memerankan Scott Lang, alias Ant-Man, dan Evangeline Lilly akan berperan sebagai Hope van Dyne, alias Wasp. Keduanya telah membawa karakter-karakter ini dengan baik, dan penggemar pasti akan senang melihat kembalinya mereka dalam “Quantumania.” Eksplorasi Lebih Dalam tentang Kuantum Salah satu elemen yang paling menarik dari film ini adalah eksplorasi lebih dalam tentang kuantum. Dalam MCU, kuantum adalah dimensi yang misterius dan penuh dengan potensi tak terbatas. Ant-Man dan Wasp telah memperkenalkan kita pada konsep kuantum sebelumnya, dan “Quantumania” akan membawa kita lebih dalam ke dalam dunia ini. Hal ini berarti kita mungkin akan melihat lebih banyak kekuatan dan fenomena kuantum yang mengejutkan, dan ini bisa menjadi inti dari cerita film ini. The Return of the Quantum Realm Quantum Realm, atau Dunia Kuantum, adalah tempat yang penuh misteri yang telah menjadi fokus dalam film-film Ant-Man sebelumnya. Ini adalah dimensi di mana hukum fisika konvensional tidak berlaku, dan di mana waktu dan ruang bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Setelah peristiwa “Ant-Man and the Wasp,” Scott Lang kembali dari Quantum Realm dengan selamat. Namun, dalam “Quantumania,” kita dapat mengharapkan kembalinya Quantum Realm dan mungkin pengenalan elemen-elemen baru dalam dunia ini yang akan menjadi penting dalam cerita. Ancaman Baru: Kang the Conqueror Dalam “Ant-Man and the Wasp: Quantumania,” karakter utama akan menghadapi salah satu penjahat terkuat dalam Marvel Comics, Kang the Conqueror. Kang, yang diperankan oleh Jonathan Majors, adalah penjahat yang menguasai perjalanan waktu dan memiliki pengetahuan tentang kuantum yang mendalam. Dia adalah ancaman serius bagi Ant-Man, Wasp, dan tim mereka. Pertempuran melawan Kang the Conqueror akan menjadi salah satu elemen kunci dalam film ini, dan akan memberikan tingkat ketegangan yang tinggi. Ant-Man and the Wasp Quantumania Karakter Pendukung yang Kuat Selain Ant-Man, Wasp, dan Kang, film ini akan menampilkan karakter-karakter pendukung yang kuat. Michael Douglas akan kembali sebagai Hank Pym, ilmuwan jenius di balik teknologi Ant-Man. Michelle Pfeiffer juga akan kembali sebagai Janet van Dyne, ibu dari Hope van Dyne, yang telah lama hilang di Quantum Realm. Kehadiran karakter-karakter ini menjanjikan pengembangan karakter dan dinamika keluarga yang mendalam. Kuantum sebagai Kunci untuk Perjalanan Waktu Dalam MCU, Quantum Realm telah dijelaskan sebagai kunci untuk perjalanan waktu. Ini adalah elemen yang sangat penting dalam film “Avengers: Endgame,” di mana para pahlawan mencoba menggunakan Quantum Realm untuk mengubah sejarah. Dalam “Quantumania,” kita dapat mengharapkan perjalanan waktu yang lebih dalam dan penggunaan Quantum Realm sebagai alat untuk menghadapi Kang the Conqueror. Perjalanan waktu selalu menjadi konsep yang menarik dalam cerita superhero, dan film ini mungkin akan membawa penggunaan yang kreatif dari konsep ini. Perkembangan Karakter: Ant-Man dan Wasp Dalam film ini, kita akan melihat perkembangan karakter Ant-Man dan Wasp. Scott Lang akan terus mengasah kemampuannya sebagai Ant-Man, dan mungkin akan menghadapi konflik baru yang menguji kekuatan dan keberaniannya. Sementara itu, Hope van Dyne akan mengambil peran yang lebih besar sebagai Wasp, dan dia mungkin akan mengeksplorasi kekuatan barunya dengan lebih mendalam. Perkembangan karakter ini akan memberikan kedalaman pada cerita dan membantu kita lebih terhubung dengan pahlawan-pahlawan ini. Pertempuran Melawan Ancaman Kuantum Pertempuran melawan ancaman kuantum akan menjadi salah satu poin fokus dalam “Ant-Man and the Wasp: Quantumania.” Kekuatan kuantum yang tidak terduga dan teknologi yang belum terpecahkan akan memainkan peran besar dalam konflik ini. Bagaimana Ant-Man dan Wasp menghadapi tantangan-tantangan ini dan memanfaatkan kuantum untuk melawan Kang the Conqueror akan menjadi salah satu elemen yang paling menarik dalam film ini. “Ant-Man and the Wasp: Quantumania” adalah film yang sangat dinantikan oleh banyak penggemar nontonfilm88.co. Dengan eksplorasi lebih dalam tentang kuantum, kembalinya Quantum Realm, pertempuran melawan Kang the Conqueror, karakter pendukung yang kuat, dan perkembangan karakter Ant-Man dan Wasp, film ini menjanjikan petualangan yang epik dan misterius. Konsep kuantum dan perjalanan waktu memberikan elemen yang menarik dan berbeda dalam dunia superhero, dan film ini tampaknya akan memanfaatkan konsep-konsep ini dengan baik. Para penggemar Ant-Man dan Wasp pasti akan senang melihat kembalinya pahlawan-pahlawan ini dalam petualangan kuantum yang menegangkan. “Ant-Man and the Wasp: Quantumania” adalah salah satu film yang akan membuat kita merenungkan tentang kompleksitas alam semesta MCU dan memikirkan apa yang mungkin terjadi selanjutnya dalam petualangan para pahlawan super ini.
Coal Country Kisah Para Penambang Batu Bara
Artikel Film

Coal Country Kisah Para Penambang Batu Bara

Coal Country Kisah Para Penambang Batu Bara – Pernah mendengar film Coal Country? Film ini termasuk film yang ditunggu – tunggu banyak orang. Kisah yang diangkat dalam film Coal Country sangat menarik dan menegangkan. Film dokumenter satu ini mengkisahkan para penambang batu bata yang ada disebuah wilayah. Kisah para penambang ini diangkat karena ceritanya yang begitu rumit penuh konflik. Kisah yang dialami para penambang dan warga bukanlah kisah yang mudah dijalani.

Coal Country merupakan film dokumenter para penambang batu bara yang dikemas dengan penuh polemik. Apa konflik yang diangkat dalam film Coal Country? Konflik yang diangkat merupakan konflik antara para penambang dengan warga. Konflik yang terjadi antara pihak tersebut mampu menjadi konflik yang tidak berujung. Selalu bermunculan konflik baru yang membuat warga tidak suka dengan tempat penambangan tersebut.

Kisah ini dimulai ketika tempat tersebut dijadikan sebagai lokasi penambangan batu bara. Adanya lokasi penambangan tersebut disambut baik oleh semua warga di sekitar lokasi. Para warga senang dengan dibukanya tempat penambangan di sekitar wilayah mereka. Warga mengatakan bahwa adanya penambangan tersebut mampu menjadi lahan para warga mencari penghasilan. Terbukanya lapangan kerja di sana membuat warga merasa lebih tenang.

Proses penambangan baru bara juga berjalan dengan sangat baik. Semua pihak merasa diuntungkan dengan adanya lokasi penambangan tersebut. Bagaimana bisa muncul konflik di dalam kisah tersebut? Kisah ini mulai semakin rumit setelah adanya proyek untuk pemindahan gunung. Proyek inilah yang mampu membuat muncul konflik antara penambang dan warga. Proyek ini memberikan dampak yang buruk untuk warga sekitar sehingga memicu aksi penolakan oleh warga sekitar.

Coal Country Kisah Para Penambang Batu Bara

Proyek pemindahan baru tersebut merupakan proyek yang dibutuhkan tempat penambangan batu bara. Membuka lahan baru untuk tempat penambangan namun berakibat tidak baik untuk warga sekitar penambangan. Sebelum proyek pemindahan gunung ini dilaksanakan oleh pihak pertambangan keadaan lingkungan sekitar memang sudah baik. Warga sekitar lokasi penambangan memiliki tingkat kesehatan yang sangat buruk. Pada awalnya para warga tidak masalah dengan hal tersebut namun setelah proyek pemindahan gunung dilaksanakan para warga mulai tidak bisa menerima keadaan yang terjadi.

Tingkat kesehatan yang sebelumnya sudah jelek kini semakin bertambah jelek dengan adaya proyek baru tersebut. Lingkungan disekitar lokasi penambangan menjadi tidak layak dimana air bersih menjadi berkurang. Hampir semua sumber mata air tercemari karena proses pemindahan gunung tersebut. Tidak ada sumber mata air yang menghasilkan air besih dan akibatnya membuat warga kekurangan air yang bersih. Berbagai kebutuhan terkiat air tidak dapat terpenuhi dengan baik.

Sebagai tempat penambangan yang baik maka pihak pertambangan harus memperhatikan kondisi lingkungan yang ada di sekitar tempat penambangan. Terutama tempat penambangan sangat dekat dengan lokasi pemukiman warga, sudah menjadi tugas pihak penambangan untuk memberikan jaminan aman kepada warga sekitar. Para warga bisa saja menuntut lokasi penambangan tersebut karena telah lalai dengan warga sekitarnya. Namun tuntutan tersebut bukanlah tuntutan yang mudah disampaikan.

Keberadaan tempat penambangan batu bara juga menjadi lokasi warga mendapatkan penghasilan. Jika lokasi tersebut ditutup maka warga akan kehilangan mata pencarian. Itulah konflik yang mampu melahirkan perang saudara. Polemik ini mampu menjadi polemik yang berkepanjangan. Kesimpulan mengenai kisah Coal Country adalah kisah para penambang batu bara yang memiliki berbagai ancaman setiap harinya dalam menjalankan tugasnya sebagai penambang batu bara.

10 Film Klasik Terbaik Sepanjang Masa
Film

10 Film Klasik Terbaik Sepanjang Masa

10 Film Klasik Terbaik Sepanjang Masa – Apa yang membuat film menjadi “klasik”? Ada banyak keluhan tentang keadaan Hollywood saat ini, tetapi faktanya ada banyak film mengerikan yang dibuat selama Zaman Keemasan juga. Kata “klasik” memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda, dan seperti semua seni, sinema jauh dari media yang disepakati secara objektif.

10 Film Klasik Terbaik Sepanjang Masa

coalcountrythemovie – Meski begitu, ada beberapa cara untuk mengukur status klasik film tertentu. Salah satunya adalah dengan melihat konsensus yang bisa kita dapatkan dari situs-situs seperti IMDb atau Rotten Tomatoes . Dengan teknik menyusun dan menggabungkan ulasan, kita dapat membentuk gambaran film klasik favorit semua orang (atau, setidaknya di internet) sebelum tahun 1970 .

Baca Juga : 10 Film India Terbaik Yang Harus Kalian Tonton Saat Ini 

10. ‘Psycho’ (sutradara Alfred Hitchcock, 1960)

Kritikus Rotten Tomatoes mengoceh tentang adegan mandi di Psycho tetapi merekomendasikan bertahan untuk kontribusi inovatif yang dibuatnya untuk thriller dan genre horor. Ulasan mereka menyatakan, “Hitchcock tidak hanya membuat horor modern, dia memvalidasinya.” Psycho adalah film tentang Marion Crane (Janet Leigh), seorang wanita yang telah mencuri sejumlah uang dan melarikan diri dari hidupnya. Sayangnya, dia berlari tepat ke cengkeraman bajingan Bates Motel, Norman Bates (Anthony Perkins).

9. Casablanca

Ulasan Rotten Tomatoes tentang Casablanca tidak akan lengkap tanpa memuji penampilan abadi Humphrey Bogart dan Ingrid Bergman. Kritikus menyebutnya “sebuah mahakarya yang tak terbantahkan dan mungkin pernyataan klasik Hollywood tentang cinta dan romansa.” Mengambil tempat sebagian besar di klub malam, Rick Blaine harus membantu kekasih lamanya dan suami barunya di Perlawanan Prancis melarikan diri dari negara dengan romansa yang tak terbantahkan.

8. Singin’ in the Rain

Singin’ in the Rain adalah salah satu musikal Hollywood yang paling luar biasa, dan Rotten Tomatoes tidak membiarkan mahakarya ini luput dari perhatian. Mereka memuji lagu klasik Gene Kelly dengan menyebutnya, “pintar, tajam, dan lucu”.

Singin’ in the Rain menceritakan kisah kacau transisi Hollywood tahun 1920-an dari film bisu ke “talkie”, dan ketika hanya setengah laki-laki dari pasangan kekuatan film bisu yang bisa bernyanyi, dia jatuh cinta pada gadis paduan suara yang mengisi vokal wanita terkemuka.

7. It Happened One Night

Penjumlahan Rotten Tomatoes dari It Happened One Night pendek dan manis, menyatakan bahwa itu hanya “tetap tak tertandingi oleh komedi romantis yang tak terhitung jumlahnya yang telah diilhami.” It Happened One Night adalah cetak biru modern untuk film ‘gadis manja bertemu pria pemarah’, dan membantu menciptakan standar sinematik akan-mereka-atau-tidak-mereka .

Ellie Andrews (Claudette Colbert) menikahi Raja Westley dan tak lama setelah mereka berangkat dengan kapal pesiar, dia melompat dari kapal hanya untuk bertemu dengan penulis surat kabar Peter Warne (Clark Gable). Sebagai ganti cerita eksklusif, dia menawarkan untuk membantu menemukan suaminya, tetapi setelah menghabiskan waktu bersama, mungkin dia ingin tetap tersesat.

6. Modern Times

Modern Times adalah komedi slapstick tentang industri Amerika, dan Rotten Tomatoes menyebutnya “tajam secara politis sekaligus lucu tertawa terbahak-bahak”. Sutradara Charlie Chaplin menampilkan kembali karakter Little Tramp-nya saat bioskop bisu beralih ke talkie; di sini, dia bekerja di sebuah pabrik modern di mana dia merasa kewalahan oleh teknologi dan sering mengalami masalah yang membuatnya dipenjara. Bersama seorang gadis yatim piatu yang dia temui, pasangan itu mencoba menavigasi dunia modern yang cepat akhirnya menjadi seorang pemain.

5. Metropolis

Metropolis terjadi di oasis modern di mana Freder muda ingin memanfaatkan hak istimewanya dengan baik begitu dia menyadari bahwa di bawah kota futuristik yang indah tempat dia tinggal, ada dunia bawah kelas pekerja yang gelap dan putus asa.

Dia membentuk aliansi yang tidak mungkin dengan guru yang berpikiran sama dan ketidaksetujuan dari ayahnya mendorong konflik yang kuat, terutama untuk film bisu. Metropolisadalah film fiksi ilmiah Jerman yang dianggap oleh kritikus Rotten Tomatoes sebagai “menginspirasi secara visual”.

4. ​​​​​​​All About Eve

All About Eve adalah kisah seorang aktris muda manipulatif yang menggunakan kisah hidup yang menyedihkan untuk mendapatkan perhatian dan bantuan bintang, Margo Channing. Margo dan teman-temannya merawat aktris muda yang malang itu, tanpa menyadari bahwa Eve memanfaatkan kebaikan Margo.

Kritikus Rotten Tomatoes menyatakan bahwa film ini “pintar, canggih, dan sangat lucu” dan tidak seperti banyak film yang dibuat saat ini, film ini menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu.

3. ​​​​​​​The Third Man

Orang Ketiga disebut “salah satu mahakarya sinema yang tak terbantahkan” oleh kritikus Rotten Tomato. Film Carol Reed dan Orson Welles adalah film thriller atmosfer yang dibuat di Wina pascaperang dan mengikuti kisah seorang penulis miskin, Holly Martins, yang mengunjungi teman masa kecilnya, hanya untuk menemukan bahwa dia sudah mati. Terguncang oleh kematiannya, Martins berteori bahwa ada orang ketiga di sana ketika temannya meninggal. Teori ini menempatkannya di radar seorang perwira Inggris dan di pelukan kekasih mendiang temannya.

2. Citizen Kane

Citizen Kane telah mendapatkan tempatnya dalam sejarah film di mata Rotten Tomatoes. Ulasan mereka menyebutnya “menghibur, pedih, dan inventif dalam penceritaannya”. Kata terakhir Charles Foster Kane (Orson Welles) adalah “Rosebud” dan dengan itu, seorang reporter harus mencoba menyatukan hidupnya melalui lensa teman mendiang Kane Jedediah Leland (Joseph Cotten), dan kekasihnya, Susan Alexander (Dorothy Comingore ).

Sementara reporter menemukan bahwa Kane berubah dari compang-camping menjadi kaya, dia khawatir dia tidak akan pernah benar-benar mengungkap kisah kompleks dan lengkap tentang pria yang bernama Charles Foster Kane.

1. ​​​​​​​The Wizard of Oz

The Wizard of Oz adalah salah satu dari sedikit jawaban yang dapat diterima ketika ditanya apa film terhebat sepanjang masa, dan Rotten Tomatoes setuju. Mereka menyebutnya “sebuah mahakarya mutlak yang visual inovatif dan penceritaannya yang cekatan masih bergema.”

Dengan bantuan teman baru mereka, Dorothy (Judy Garland) dan anjingnya, Toto, harus melewati jalan bata kuning untuk menemukan Penyihir dan kembali ke rumah setelah tornado mengirimnya dari Kansas sampai ke Oz. Teman-teman baru mereka semua kehilangan sesuatu, apakah itu hati, otak, atau keberanian, tetapi saat menempuh jalan batu bata kuning untuk membantu Dorothy, mereka menemukan bahwa mereka memilikinya selama ini.

10 Film India Terbaik Yang Harus Kalian Tonton Saat Ini
Film

10 Film India Terbaik Yang Harus Kalian Tonton Saat Ini

10 Film India Terbaik Yang Harus Kalian Tonton Saat Ini – Seperti kecenderungan dalam beberapa tahun terakhir, film-film India Selatan terus mendominasi box office pada tahun 2022, dengan “RRR” dan “Vikram” menjadi beberapa sorotan, dan yang pertama benar-benar mendapatkan pengakuan internasional, sebagai Penghargaan Golden Globe untuk Film Terbaik. Sorotan Lagu Asli untuk Naatu Naatu.

10 Film India Terbaik Yang Harus Kalian Tonton Saat Ini

coalcountrythemovie – Dalam kesuksesan internasional lainnya untuk perfilman India, “Pertunjukan Film Terakhir” Pan Nalin terpilih untuk Oscar dalam kategori Film Fitur Internasional Terbaik, sementara Pan Nalinfilm dokumenter “All That Breathes” memenangkan Grand Jury Prize dalam Kompetisi Dokumenter Sinema Dunia di Sundance, sebelum juga terpilih untuk Fitur Dokumenter Terbaik untuk Academy Awards ke-95.

Baca Juga : Lima Film Breakout 90-An Jennifer Connelly

Jika Anda menambahkan semua fakta ini bahwa film lokal tampaknya menemukan lebih banyak tempat di festival internasional, tampaknya film India akhirnya mendapatkan pengakuan yang layak mereka terima. Prestasi tersebut dapat dikaitkan dengan “pembukaan” dari Barat menuju industri film terbesar di dunia dalam hal jumlah, dan fakta bahwa sinema India, setidaknya sebagian darinya, menjauh dari pendekatan Masala yang datang. untuk mendefinisikannya selama dekade sebelumnya.

Tanpa basa-basi lagi, inilah film-film India terbaik tahun 2022, dalam urutan terbalik. Beberapa film mungkin tayang perdana pada tahun 2021, tetapi karena sebagian besar beredar pada tahun 2022, kami memutuskan untuk memasukkannya.

1. Party Poster (Rishi Chandna, Hindi)

Dengan pendekatan yang mengingatkan banyak pada film pendeknya sebelumnya, “Tungrus” yang luar biasa, Rishi Chandna menghadirkan sebuah film yang tampak seperti dokumenter dalam realismenya, tetapi pada saat yang sama menghadirkan kenyataan yang begitu surealistik, sehingga bisa menjadi sebuah mockumentary.

Dengan cara itu, kami menyaksikan tiga tukang cuci, Munna, Rajesh, dan Prem melakukan kerja keras, yang hanya terganggu oleh rencana mereka untuk membuat spanduk, termasuk interaksi lucu dengan desainer grafis, seorang wanita yang benar-benar mengikuti hal-hal yang tidak masuk akal. instruksi di bawah “alasan” poster juga melayani tujuan politik.

Kepala mana yang lebih besar, seberapa besar tanda merah di dahi dan seberapa gelap tampilan kacamata hitam di antara petunjuknya, dan hasilnya terlihat lucu dan berlebihan seperti yang diharapkan.

2. Jana Gana Mana (Dijo Jose Antony, Malayalam)

Film thriller sosial-politik dan drama ruang sidang? Hari-hari ini Anda beruntung jika sebuah fitur dapat melakukannya dengan baik tetapi bintang Suraj dan Prithviraj “Jana Gana Mana” berhasil melakukan keduanya dengan penuh percaya diri!

Monolog yang membangkitkan semangat mengisi narasi, disampaikan dengan keyakinan oleh Prithviraj, sementara liku-liku dalam kisah tersebut dieksekusi dengan hasil yang memuaskan oleh sutradara Dino Jose Anthony.

3. Bhoothakaalam (Rahul Sadasivan, Malayalam)

“Bhoothakaalam” adalah horor psikologis yang cerdas, sangat menyadari kualitasnya. Sadasivan dengan berani mengadaptasi naskah berisiko untuk membuat film yang belum pernah dibuat di Kerala. Sutradara tidak menggunakan formula yang menguras air mata atau trik umum yang sederhana, melainkan mempertahankan narasi yang kuat. Akibatnya, Bhoothakaalam mengebor tengkorak Anda, perlahan mengencangkan sekrup teror yang merambah hingga akhir. Setelah Five Flavours hits Tumbbad dan Churuli sebelumnya, ini adalah satu lagi kejayaan bioskop horor dari India.

4. The Winter Within (Aamir Bashir, Kashmir)

Berfokus penuh pada protagonisnya, Bashir membuat sejumlah komentar sosial dan politik mengenai situasi di Kashmir, tetapi dia tidak berhenti di situ, karena dia juga berfokus pada kesulitan yang dihadapi perempuan di negara tersebut, terutama ketika mereka tanpa suami, dan bahkan terlebih lagi ketika mereka menemukan diri mereka memiliki hubungan dengan seorang revolusioner.

Keadaan yang keras di daerah itu, di mana tentara masuk ke rumah-rumah pada malam hari untuk menculik orang dan bahaya tampaknya mengintai di setiap sudut, dikombinasikan dengan situasi yang dihadapi perempuan dan cinta segitiga yang akhirnya terbentuk, adalah salah satunya. aspek terbaik dari film.

5. Last Film Show (Pan Nalin, Gujaratu)

“Last Film Show” adalah film tentang keajaiban menonton dan membuat film. Tindakan sederhana menonton film, asyik dengan cerita, dunia, dan karakternya, memiliki kekuatan untuk mengubah hidup terlepas dari usia, lokasi, dan waktu. Ini adalah pengalaman transnasional, trans-temporal. Transendental, bahkan, seperti yang kita lihat dari Samay.

Dari seorang bocah lelaki yang masa depannya akan menjadi kelanjutan dari hadiah menyedihkan ayahnya, ia menjadi pemimpi yang berani dan kemudian, bahkan seorang “penemu” proyektor film sederhana. Jadi, baginya, dan bagi semua orang yang telah jatuh cinta pada sinema, bentuk seni menjadi kuasi-agama yang dibaktikan oleh orang tersebut. Dan itu diselamatkan olehnya, baik pada saat menonton film tertentu, maupun di masa depan, karena hidupnya memiliki makna. (Martin Lukanov)

6. Vikram (Lokesh Kanagaraj, Tamil)

Lokesh Kanagaraj ingin menciptakan alam semesta sinematik, melanjutkan dari “Kaithi” prekuel “Vikram”, dan pengenalan sejumlah individu yang lebih besar dari kehidupan, individu yang sangat kuat yang terkadang berbenturan atau bekerja sama bergerak ke arah ini. Dalam hal itu, tiga protagonis utama, Amar, Karnan dan Sandhanam, semuanya mengesankan dalam penyajiannya, dengan cerita seputar aksi mereka.

Lebih jauh lagi, pendekatan Rolex pada akhirnya menambah takik lain pada keseluruhan konsep. Namun, pada saat yang sama, dan meskipun analisis protagonis cukup menyeluruh, Kangaraj mengambil ceritanya terlalu banyak dalam hampir tiga jam durasi film, menghasilkan narasi yang kadang-kadang membingungkan dan tidak masuk akal, sementara realisme melompat keluar dari jendela cukup awal.

7. Paka River of Blood (Nithin Lukose, Malayalam)

Meskipun premisnya mengarah pada kisah Romeo dan Juliet, Nithin LukoseTujuan ada di tempat lain, dengan fakta bahwa protagonis wanita pada dasarnya ditempatkan di latar belakang menjadi salah satu elemen yang membuktikan hal tersebut. Sebaliknya, dia ingin menunjukkan betapa sulitnya siklus kekerasan ditutup ketika dibuka, bahkan oleh orang-orang yang tidak mau melanjutkan balas dendam, mereka hampir tidak ingat kapan dan mengapa itu dimulai. Cara mereka tersedot ke dalamnya mungkin merupakan aspek film yang paling mengesankan, juga paling diuntungkan oleh karakter sekunder.

Persona Kocheppu memang satu, dengan cara dia menikmati kehidupan di luar penjara (adegan di bioskop agak berkesan), bergaul dengan teman dan kerabatnya, dan mencoba memulai kembali hidupnya termasuk hubungannya dengan putranya, tetapi terus menerus tersandung. atas dendam, menjadi salah satu media utama komentar pusat di sini. Jose Kizhakkan memberikan penampilan yang luar biasa dalam peran tersebut.

Hal yang sama berlaku untuk dua patriark, yang kepahitannya memenuhi layar setiap kali mereka berbicara, meskipun mereka hampir tidak bergerak. Bahwa mereka berbeda jenis kelamin juga menambah komentar di sini, menunjukkan bahwa kebencian tidak mengenal jenis kelamin, sekaligus membuat tuduhan yang berbeda terhadap generasi sebelumnya yang masih mempertahankan “tradisi” seperti itu, bahkan terhadap seluruh konsep patriarki.

8. RRR (SS Rajamouli, Telugu)

Perpaduan aksi yang absurd, karakter yang tidak masuk akal, musik dan tarian yang intens, dan kebencian terhadap kolonialisme Inggris yang disajikan Rajamouli di sini sama menghiburnya dengan kedengarannya, dengan hampir tidak adanya kebenaran politik yang menghasilkan film yang menawarkan kesenangan yang lengkap dan lengkap dari awal hingga akhir.

Dengan demikian, pendekatan dongeng epik menghasilkan protagonis melawan harimau, melilit bendera agar tidak terbakar, menang dalam kompetisi menari melawan Inggris (dalam urutan yang meneriakkan “Bridgerton” dari awal hingga akhir) tetapi juga bertarung satu sama lain dengan niat membunuh, dan menyiksa dan disiksa dalam adegan yang bisa digambarkan sebagai eksploitatif.

9. The Cloud Messenger (Rahat Mahajan)

Konsep reinkarnasi atau benturan dunia mitologis dan dunia “nyata” dapat digunakan di sini untuk menyoroti makna universal cinta, takdir, dan mengatasi tantangan yang ditimbulkannya. Cara Mahajan mengarahkan filmnya, dengan penekanan pada isyarat visual bagaimana tradisi dan modernitas bercampur, dan mekanisme artikular dari kedua dunia, lebih dari cocok untuk cerita semacam itu.

Cara dia mengarahkan aktor mudanya ke arah yang diinginkan sungguh luar biasa dan perhatian terhadap detail (terutama di “ranah” pesantren) cukup mengerikan, sementara dunia fantasi yang dia bayangkan juga meninggalkan kesan yang cukup kuat.

10. Shivamma (Jaishankar Aryar, Kannada)

Jaishankar Aryar mengarahkan film yang terlihat seperti film dokumenter, baik karena sinematografi Vikas Urs dan Saumyananda Sahi, yang mencakup banyak close up dan kualitas gambar yang dilucuti dari keindahan apa pun, dan para pemerannya, yang sebagian besar adalah aktor yang tidak terlatih yang bermain sendiri. Hasilnya sangat realistis, dengan keseluruhan presentasi yang paling diuntungkan oleh perpaduan narasi fiksi dengan estetika dokumenter.

Lima Film Breakout 90-An Jennifer Connelly
Film

Lima Film Breakout 90-An Jennifer Connelly

Lima Film Breakout 90-An Jennifer Connelly – Jennifer Connelly adalah seorang aktris pemenang Academy Award yang mungkin tidak memiliki daftar panjang film untuk kreditnya selama beberapa dekade dia berkecimpung dalam bisnis ini, tetapi telah memberikan kontribusi yang besar.

Lima Film Breakout 90-An Jennifer Connelly

coalcountrythemovie – Setelah perannya sebagai bintang dalam Jim Henson ‘s Labyrinth pada tahun 1986, dia meledak ke layar, membintangi satu demi satu hit. Ketampanannya yang memikat dan gaya autentiknya memenangkan banyak penonton di seluruh dunia. Berikut adalah 5 film yang menentukan karirnya dari tahun 1990-an.

Baca Juga : Review Film The Wages of Fear

1. The Hot Spot (1990)

Ketika tahun 1990-an dimulai, bintang-bintang televisi dari dekade sebelumnya mulai mencoba melompat ke layar lebar. Begitulah yang terjadi pada Don Johnson , bintang besar dari drama polisi TV Miami Vice . Dia berperan sebagai seorang drifter tampan yang datang ke kota dan mulai menyukai Gloria Harper (Connelly) yang masih sangat muda, yang bekerja di sebuah dealer mobil.

Istri dealer adalah Dolly ( Virginia Madsen ) yang menaruh minat pada drifter tersebut dan keduanya mulai berselingkuh, meskipun Gloria sedang memikirkannya. Komplikasi terjadi dengan pengkhianatan dan pembunuhan sebagai hasil akhirnya.

Disutradarai oleh Dennis Hopper yang legendaris , The Hot Spot pada akhirnya adalah film thriller hambar yang bisa dilupakan yang akan lama hilang di jajaran bioskop tetapi tetap dikenal karena satu alasan yang sangat spesifik: Jennifer Connelly. Lebih tepatnya, Jennifer Connelly yang telanjang bulat .

Tentu saja, dia menangani dirinya dengan baik dalam peran ‘dewasa’ pertamanya, melepaskan diri dari persona gadis muda lugu dari kesuksesannya sebelumnya, seperti Labyrinth , dan membentuk wanita yang membara dan ceria yang akan dia wujudkan untuk beberapa film lagi. Kami dijual.

2. Career Opportunities (1990)

Dimaksudkan untuk menjadi kendaraan bagi bintang yang sedang naik daun Frank Whaley , yang tidak pernah benar-benar mendapatkan kesuksesan yang seharusnya dia dapatkan, caper komedi ini mengikuti Jim (Whaley), seorang pemalas muda, petugas kebersihan semalaman di Target yang menemukan dirinya dengan kemungkinan arah baru dalam hidup ketika Josie (Connelly), putri seorang pengusaha kaya, tertekan oleh kehidupannya di rumah, terkunci di department store.

Keduanya semakin dekat saat malam berlalu dan memutuskan untuk pergi ke LA, tetapi pertama-tama mereka harus bertahan sampai pagi karena dua pencuri kecil masuk dan menyebabkan masalah.

Disutradarai oleh Bryan Gordon , komedi ringan ini akan dan bisa menjadi film yang menjadikan Whaley bintang, tetapi saat Connelly tiba, semuanya berakhir. Kecantikan mudanya yang memancar, dia benar-benar menerangi layar dengan seksualitas yang intens dan pesona gadis tetangga yang membedakannya dari rekan prianya.

Perjalanannya dengan menunggang kuda yang dioperasikan dengan koin anak-anak cukup meyakinkannya untuk mendapat peran dalam film apa pun setelah itu. Tapi selain dari kecantikan fisiknya yang terlihat jelas, dia juga sangat menawan dan lucu dan mudah untuk melihat mengapa penonton jatuh cinta. Hitung kami dengan mereka.

3. The Rocketeer (1991)

Connelly menindaklanjuti Peluang Karir dengan aktor lain yang bintangnya sedang naik daun dan seharusnya lepas landas tetapi tidak pernah berhasil. Billy Campbell adalah headliner Disney’s The Rocketeer , sebuah drama aksi fiksi ilmiah yang diterima dengan baik di tahun 1930-an di mana seorang pilot muda, melalui keadaan, menemukan prototipe jetpack yang kuat yang memungkinkannya terbang dengan kecepatan tinggi. Dia dan teman mekaniknya menggunakannya untuk menghentikan Nazi dan menyelamatkan gadis terbaiknya (Connelly), seorang calon aktris yang terlibat dengan agen rahasia Nazi.

Disutradarai oleh Joe Johnson , petualangan aksi yang menyenangkan ini tidak berusaha untuk realisme, sebaliknya, mencoba dan sebagian besar berhasil menangkap nuansa film serial masa lalu dengan beberapa penampilan hebat dan arahan yang solid.

Sekali lagi, sebaik Campbell (dan orang jahat Timothy Dalton ), mereka dibiarkan di pinggiran saat bintang Connelly menyala paling terang, benar-benar memancarkan pesona. Menakjubkan di setiap adegan, perpaduan khasnya yang mudah berubah dari pesona tenunan sendiri dan seksualitas terbuka membuatnya menontonnya seperti kecanduan bahan kimia. Penonton menginginkan lebih. Dia menurut.

4. Mulholland Falls (1996)

Connelly terus berakting, bekerja di televisi selama beberapa tahun dan muncul di beberapa film yang lebih kecil, tetapi kembali menjadi sorotan dalam film thriller kriminal era 1950-an ini tentang unit polisi khusus yang menyelidiki pembunuhan.

Dipimpin oleh undian besar Nick Nolte , tim kecil polisi yang mengenakan fedora memiliki merek kejahatan dan keadilan mereka sendiri dan tidak berhenti untuk mendapatkan orang mereka. Sementara ulasan beragam, film ini gagal di box office tetapi telah mendapatkan pengikut yang stabil dan rakus dan Anda sudah bisa menebak alasannya.

Disutradarai oleh Lee Tamahori , Connelly berperan sebagai wanita yang terbunuh. Waktu layarnya terbatas, dia sering terlihat dalam kilas balik, tetapi ketika dia muncul, dia melelehkan layar. Sekali lagi, bintang cantik itu menelanjangi dan menggetarkan cerita dengan beberapa seksualitas yang kuat, yang mungkin tampak serampangan secara tertulis, tetapi penting untuk memotivasi karakter laki-laki dalam plot.

Daya pikatnya yang menakjubkan adalah jerat yang membuat orang-orang ini runtuh dan kendalinya atas mereka adalah kunci dari apa yang mendorong mereka untuk melakukan apa yang mereka lakukan. Film ini tidak sekacau ulasan awal yang diyakini, dan seiring berlalunya waktu, telah menjadi film yang jauh lebih baik, dibuat lebih dari kehadiran Connelly yang mengesankan dan mempesona.

5. Dark City (1998)

Salah satu film sci-fi paling berpengaruh sejak Blade Runner Ridley Scott , Dark City adalah mahakarya mendongeng, kisah kemanusiaan dan harapan yang memikat secara visual yang mengikuti jalan mengganggu seorang pria bernama John Murdoch ( Rufus Sewell ) yang bangun suatu hari untuk mimpi buruk. Mengatakan lebih banyak akan merusak film karena merupakan pengalaman berlapis dan kompleks yang membantu menginspirasi banyak orang setelahnya, termasuk The Matrix .

Ditulis dan disutradarai oleh Alex Proyas , Connelly berperan sebagai istri Murdoch, tokoh kunci dalam cerita berbelit-belit yang mengubah realitas. Meskipun dia adalah karakter pendukung, dia sangat penting dan menjadi motivasi pendorong bagi Murdoch. Jika ada daftar gambar visioner dan ikonik dari film-film tahun 1990-an, pose mencolok Connelly di tepi dermaga tentu ada di antara mereka.

Sebuah film yang harus dilihat untuk penggemar sci-fi, itu juga salah satu yang paling berkesan bagi aktris Jennifer Connelly yang akan mengambil apa yang dia buat di sini dan dalam dekade sebelumnya ke milenium berikutnya, membentuk kembali karirnya dan mendapatkan tempat yang memang layak untuknya. di antara aktor wanita terhebat pada masanya.

Review Film The Wages of Fear
Film

Review Film The Wages of Fear

Review Film The Wages of Fear – Ketika film thriller Prancis yang hebat “The Wages of Fear” (1953) pertama kali dirilis di Amerika, film itu kehilangan beberapa adegan awal karena terlalu panjang, kata distributor AS, dan karena mereka anti-Amerika, menurut kepada para kritikus Paris. Sekarang film tersebut tersedia untuk pertama kalinya dalam potongan asli sutradara Henri-Georges Clouzot , dapat dilihat bahwa kedua belah pihak ada benarnya.

Review Film The Wages of Fear

coalcountrythemovie – Urutan ketegangan film yang diperpanjang layak mendapat tempat di antara bentangan besar bioskop. Empat pria putus asa, bangkrut dan terdampar di pedalaman Amerika Latin, mendaftar dalam misi bunuh diri untuk mengemudikan dua truk berisi nitrogliserin sejauh 300 mil di jalan yang berbahaya. Mereka bisa hancur berkeping-keping kapan saja, dan dalam adegan film yang paling terkenal, Clouzot meminta mereka untuk memutar truk mereka di atas platform kayu setengah jadi yang reyot tinggi di atas ngarai gunung.

Baca Juga : Review Film Salt of the Earth 

Perjalanan mereka juga mengharuskan mereka untuk menggunakan beberapa nitrogliserin untuk meledakkan batu besar di jalan, dan pada akhirnya, setelah pipa pecah, sebuah truk harus melewati genangan minyak yang tampaknya membuat mereka terhina. tugas mereka. Karena mereka bukanlah pahlawan, kata Clouzot, tetapi orang-orang yang menghargai diri mereka sendiri dengan harga $2.000 per kepala yang akan dibayar perusahaan minyak jika mereka membawa nitro ke kepala sumur yang membutuhkannya.

Perusahaan, yang secara signifikan memiliki inisial yang sama dengan Standard Oil, adalah perusahaan Amerika yang mengeksploitasi pekerja di negara yang tidak disebutkan namanya tempat pembuatan film tersebut. Skenario tersebut spesifik tentang motif bos Amerika yang mempekerjakan pengemudi truk: “Mereka bukan anggota serikat pekerja, dan mereka tidak memiliki kerabat, jadi jika terjadi sesuatu, tidak ada yang akan datang menimbulkan masalah.” Ada momen lain ketika para kapitalis Yankee dijadikan sebagai penjahat, dan kabarnya ini adalah salah satu adegan yang dipangkas sebelum film dibuka di negara ini.

Ironisnya, trim telah dipulihkan pada saat mereka kehilangan banyak relevansinya, mengungkapkan bahwa film tersebut bekerja lebih baik sebagai film thriller daripada sebagai saluran politik. Urutan pembukaan, berlatarkan desa yang suram di mana para pengangguran berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, mirip dengan pembukaan ” The Treasure of the Sierra Madre ” karya John Huston (1948), bahkan sampai ke detail mengunjungi tukang cukur lokal. Tapi sementara Huston menggunakan pembukaannya untuk membangun karakternya dan bekerja dalam humor masam, Clouzot menciptakan perasaan bosan tanpa tujuan.

Meskipun sangat ingin membangun subteks anti-Amerika, dia mengungkapkan dirinya sebagai seorang reaksioner dalam politik seksual dengan karakter Linda ( Vera Clouzot ) yang tidak dapat dijelaskan, yang melakukan pekerjaan kasar di salon. Dia jatuh cinta dengan salah satu layabouts lokal ( Yves Montand, dalam peran dramatis pertamanya), yang menamparnya dan menyuruhnya tersesat, dan dia menghabiskan sebagian besar waktunya tergeletak di tanah, meskipun selalu dibuat-buat tanpa cela.

Tidak ada tujuan yang jelas dari karakter ini, selain dari caranya berfungsi untuk mengatur kalimat seperti, “Wanita tidak baik.” Jika urutan pembukaan, yang sekarang dipulihkan, cenderung berlarut-larut, film ini menghentak saat kedua truk memulai perjalanan 300 mil yang menyiksa ke sumur minyak yang menyala-nyala. Sinematografer, Armand Thirard, menyematkan setiap tim pria ke dalam kabin truk yang sesak, di mana setiap guncangan dan gundukan di jalan membuat mereka meringis, menunggu kematian yang, jika datang, akan terjadi begitu tiba-tiba sehingga mereka tidak akan pernah mengetahuinya.

Clouzot melakukan pekerjaan yang sangat efektif dalam mengatur urutan terbaik, di mana truk pertama dan kemudian truk lainnya harus mundur di platform kayu yang tidak stabil untuk melewati tikungan tajam di jalan setapak. Truk pertama digunakan untuk menentukan situasi, jadi kami tahu persis apa yang dihadapi Montand ketika dia tiba di lokasi: Kayu busuk pecah, truk mulai meluncur ke samping, kabel penyangga baja tersangkut di sisi truk, dan kami menyaksikan pekerjaan teknis yang hebat karena menciptakan fiksi yang hebat.

Saat William Friedkin membuat ulang “The Wages of Fear” sebagai “Sorcerer” pada tahun 1977, dia menggabungkan adegan ini dengan adegan selanjutnya, dalam latar hutan, untuk membuat urutan di mana sebuah truk bergoyang di jembatan gantung yang luas dan tidak stabil. Friedkin memiliki sumber daya teknis yang lebih besar, dan urutannya terlihat lebih mengesankan, tetapi pengeditan Clouzot memilih setiap momen dengan sangat tepat sehingga Anda dapat melihat dari mana Friedkin, dan banyak sutradara lainnya, mendapatkan inspirasi mereka.

Satu hal yang menetapkan “The Wages of Fear” sebagai film dari awal 1950-an, dan bukan mulai hari ini, adalah sikapnya terhadap akhir yang bahagia. Film thriller Hollywood modern tidak dapat berakhir dengan tragedi bagi para pahlawannya, karena studio tidak mengizinkannya.

“The Wages of Fear” benar-benar bebas untuk membiarkan apa pun terjadi pada salah satu karakternya, dan jika keempatnya tidak mati saat nitro mencapai sumur minyak yang menyala-nyala, mungkin karena Clouzot bahkan lebih ironis dari yang kita harapkan. Adegan terakhir, di mana truk pulang diselingi dengan perayaan sementara waltz Strauss diputar di radio, adalah pengingat betapa banyak Hollywood telah berdagang dengan bersikeras pada kekanak-kanakan dari akhir bahagia yang wajib.

Review Film Salt of the Earth
Film

Review Film Salt of the Earth

Review Film Salt of the Earth – Penguasaan bentuk dokumenter Wim Wenders sekali lagi dipajang dalam “ The Salt of the Earth ,” sebuah ode visual yang menakjubkan untuk fotografer Sebastiao Salgado, yang disutradarai bersama oleh putra pembuat dokumen juru potret, Juliano Ribeiro Salgado.

Review Film Salt of the Earth

coalcountrythemovie – Sudah lama dikenal sebagai salah satu seniman kamera yang hebat, penggunaan cahaya dan ruang pahatan Sebastiao dipadukan dengan empati yang mendalam terhadap kondisi manusia, menghasilkan gambar hitam-putih yang sangat kompleks yang menangkap martabat dalam setiap subjek.

Baca Juga : Sepuluh Film Berdasarkan Pertambangan

“Salt” memandu pemirsa dalam pengembaraan visual melalui karier fotografer, diperkaya oleh rekaman monokrom Wenders dan warna Juliano. Lebih tradisional daripada “Pina”, docu mungkin tidak mencapai ketinggian film itu tetapi masih akan diputar dengan kuat di seluruh dunia.

Wenders menemukan cara pembuatan film sinematik yang luar biasa cerdas Sebastiao mendiskusikan karyanya, dengan memproyeksikan foto-foto master ke cermin semi-transparan yang memungkinkan penonton melihat gambar dan manusia. Dengan cara ini, Wenders menggali ingatan tentang berbagai proyek monumental, mengubah visual kepala bicara yang biasa menjadi perangkat yang lebih interaktif.

Sebastiao tidak memulai sebagai fotografer: Lahir di negara bagian pertambangan Brasil Minas Gerais, ia belajar ekonomi, bahkan bekerja dengan Bank Dunia setelah pengasingannya di Prancis pada tahun 1969, setelah kudeta militer Brasil. Mencari lebih banyak pemenuhan, dia dan istrinya, Lelia, berinvestasi dalam peralatan kamera berkualitas, dan pada tahun 1973 Sebastiao berangkat ke Niger, di mana dia memulai portofolionya yang mencatat kebangsawanan dalam menghadapi penderitaan.

Dokumen tidak dimulai secara kronologis: Wenders pertama-tama meminta Sebastiao mengomentari gambarnya yang paling dikenal, dari tambang Serra Pelada yang merupakan bagian dari seri “Pekerja” tahun 1980-an. Foto-foto itu memiliki monumentalitas yang menghantui dan menyedihkan (terlebih lagi ketika diledakkan ke layar lebar), mirip dengan relief dekorasi dalam cara mereka menggabungkan ketepatan arsitektur dengan otot yang tegang dan bentuk yang energik. Sangat menarik mendengar Sebastiao mendiskusikan asal usul mereka dan emosi yang dia rasakan saat memotret di bentangan luas seperti Inferno ini.

Beberapa seri datang sebelumnya, dimulai dengan esai fotografi tentang Amerika Selatan yang memungkinkan Sebastiao mendekati negara asalnya Brasil tanpa melintasi perbatasan, hingga kembali dari pengasingan pada tahun 1980. Dia melanjutkannya dengan “The Sahel, the End of the Road ,” eksplorasi besar pertamanya tentang komunitas yang menderita kekurangan, dan juga pertama kali dia bekerja sama dengan Doctors Without Borders.

Setelah itu datanglah “Workers” dan kemudian “Exodus,” sebuah proyek yang mau tidak mau membuatnya terluka secara psikologis oleh kesengsaraan mengerikan yang dia saksikan dan rekam. Didesain sebagai catatan perpindahan penduduk melalui kelaparan, perang, dan kekurangan ekonomi, serial ini bertepatan dengan perang saudara di Rwanda dan kengerian yang tak terbayangkan.

Kritikus berpengaruh seperti Susan Sontag dan Ingrid Sischy menuduh Sebastiao mengubah kesengsaraan menjadi objek estetika untuk konsumsi Barat, namun mereduksi foto-foto ini hanya menjadi gambar yang indah merusak maksud dan maknanya.

Tentu saja dia memiliki mata yang terlatih untuk komposisi yang mencolok, tetapi keseniannya terletak pada cara dia memadukan keindahan dengan kepekaan terhadap kekuatan batin dan martabat bahkan subjeknya yang paling malang sekalipun. Keindahan bidikan yang memuaskan tidak bertentangan dengan empati, melainkan memuliakan orang-orang yang difotonya, menghasilkan komposisi yang mengharukan dan sinergis dari kemanusiaan dan drama yang dalam.

Setelah “Keluaran”, Sebastiao tidak lagi percaya pada keselamatan umat manusia. Kembali ke Brasil dengan kebutuhan yang sangat mendesak untuk meredakan kepahitannya, dia dihadapkan pada sisa-sisa tanah pertanian keluarganya yang dulunya hijau, kering karena kekeringan.

Bersama Leila, dia memulai program percobaan penanaman kembali; teknik mereka terbukti sangat sukses sehingga proyek, yang disebut “Instituto Terra”, kini telah menghutankan kembali sebagian Mata Atlantica Brasil dan menjadi model untuk upaya serupa di seluruh dunia. Pengalaman tersebut menghidupkan kembali sang fotografer untuk proyek terbarunya “Genesis”, sebuah kolaborasi dengan putranya Juliano yang mencakup bagian-bagian dunia yang mempertahankan aspek purbanya, dari Pulau Wrangel di Siberia hingga dataran tinggi Papua Nugini.

Sebagai seorang pemuda, Sebastiao pastilah tampak sebagai pemandangan yang aneh, rambut pirangnya yang panjang dan janggut merahnya yang lebat sangat kontras dengan penampilan penduduk asli yang dia potret. Jauh untuk waktu yang lama dalam setahun karena desakannya untuk tinggal bersama rakyatnya, dia mengandalkan Leila yang sangat sabar untuk mengatur rumah dan kehidupan profesional mereka, dan dokumen menjelaskan bahwa dia adalah kekuatan vital di balik semua proyeknya. Bagi Juliano, ayahnya yang sebagian besar absen adalah sosok yang hampir legendaris, jadi kolaborasi mereka di “Genesis” memiliki relevansi yang memuaskan.

Meskipun “The Salt of the Earth” berisi banyak adegan pengambilan gambar Sebastiao, hanya ada sedikit diskusi tentang metode kerjanya dan sama sekali tidak menyebutkan pengaruh artistik. Narasi Wenders mengandung lebih dari beberapa kata klise pilihan – “dia melihat ke dalam hati kegelapan” dan semacamnya – tetapi visual dan subjeknya begitu kuat sehingga mudah diabaikan.

Apa yang penonton tidak bisa tidak perhatikan, sekali lagi, adalah mata sutradara yang luar biasa untuk hitam-putih, menggabungkan kepekaannya sendiri terhadap bentuk dengan pengaruh karya Sebastiao (keduanya memiliki apresiasi yang kuat untuk langit yang dihiasi awan dalam susunan. tonalitas abu-abu). Lensing warna Juliano juga memiliki sapuan dan apresiasi terhadap cahaya dan pantulan. Foto-foto terlihat fantastis diperbesar di layar bioskop.

Sepuluh Film Berdasarkan Pertambangan
Film

Sepuluh Film Berdasarkan Pertambangan

Sepuluh Film Berdasarkan Pertambangan – Industri pertambangan sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Itu telah dan akan terus memiliki peran penting dalam membentuk dunia modern dan masa depan. Di sini kita melihat sepuluh film yang berfokus pada industri pertambangan dan sementara beberapa film mungkin mengambil kisah tragis atau kelam, penting untuk diingat bahwa kisah-kisah ini bagaimanapun, gelap, tidak mungkin untuk diabaikan.

Sepuluh Film Berdasarkan Pertambangan

coalcountrythemovie – Kisah-kisah ini memainkan peran yang sangat penting dalam memajukan industri pertambangan yang lebih kuat, lebih aman, dan berwawasan lingkungan dan ekonomi yang kita temukan saat ini dan karena alasan itu harus dirayakan.

Baca Juga : Ulasan ‘Magic Mike’s Last Dance’: Pengupasan ke Bare Essentials 

1. Harlan County, USA

Harlan County, AS adalah film dokumenter pemenang Oscar yang dirilis pada tahun 1976. Ini menunjukkan kisah nyata ‘Brookside Strike’, di mana 180 penambang batu bara dan istri mereka melakukan pemogokan terhadap Brookside Mine and Prep Plant Eastover Coal Company di Harlan County, tenggara Kentucky pada tahun 1973.

Film tersebut disutradarai dan diproduksi oleh Barbara Kopple, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendokumentasikan keluarga-keluarga yang ditampilkan dalam film tersebut saat mereka berencana melakukan pemogokan untuk kondisi kerja yang lebih aman dan gaji yang lebih adil.

2. Salt of the Earth

Salt of the Earth adalah sebuah film drama Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 1954, berdasarkan pada pemogokan tahun 1951 terhadap Empire Zinc Company di Grant County, New Mexico. Dalam film tersebut, perusahaan tersebut bernama ‘Delaware Zinc’ dan berlatar di ‘Zinctown, New Mexico’. Film ini menunjukkan bagaimana para penambang, perusahaan dan polisi bereaksi selama pemogokan.

3. North Country

North Country adalah film drama Amerika yang disutradarai oleh Niki Caro, dirilis pada tahun 2005. Film ini didasarkan pada buku ‘Class Action: The Story of Lois Jenson and the Landmark Case That Changed Sexual Harassment Law’ tahun 2002 oleh Clara Bingham dan Laura Leedy Gansler.

Film ini didasarkan pada Josey Aimes, yang bekerja di tambang besi lokal, di mana dia dan pekerja wanita lainnya menjadi sasaran pelecehan seksual terus-menerus oleh rekan kerja pria mereka. Ketika perusahaan menolak untuk menangani masalah tersebut, Josey mengajukan gugatan terhadap mereka, dan film tersebut diakhiri dengan perusahaan pertambangan membayar pekerja perempuan atas penderitaan mereka dan menetapkan kebijakan pelecehan seksual.

4. The Wages of Fear

The Wages of Fear adalah sebuah film drama Perancis yang dirilis pada tahun 1953 dan disutradarai oleh Henri-Georges Clouzot.

Ini didasarkan pada novel Prancis tahun 1950 ‘Le salaire de la peur’. Cerita berlatar di sebuah kota terpencil bernama Las Piedras, di mana satu-satunya sarana pekerjaan adalah perusahaan Amerika, Perusahaan Minyak Selatan, yang memiliki ladang minyak yang mengelilingi kota. Film ini terutama didasarkan pada empat pria yang semuanya mati ketika mereka dikirim untuk memadamkan api yang telah dimulai di salah satu ladang minyak.

5. Paint Your Wagon

Paint Your Wagon adalah sebuah film musikal Barat tahun 1969, diadaptasi dari musikal tahun 1951 Paint Your Wagon dan disutradarai oleh Joshua Logan. Film ini berlatarkan di kamp pertambangan di California selama Demam Emas dan didasarkan pada kehidupan para penambang yang tinggal di sana.

6. The Miners Hymn

The Miners Hymn adalah film dokumenter bisu yang berbasis di sekitar komunitas pertambangan batu bara di Inggris Timur Laut. Film ini menunjukkan kesulitan pekerjaan lubang, peran Serikat Buruh di pertambangan dan efek otomatisasi pada lingkungan kerja penambang dengan menggunakan rekaman yang jarang terlihat dari British Film Institute dan BBC. Itu juga menampilkan karya musik dari komposer Islandia Johann Johannsson.

7. Zorba the Greek

Zorba the Greek adalah sebuah film drama Inggris-Yunani yang dirilis pada tahun 1964 dan disutradarai oleh Michael Cacoyannis. Itu didasarkan pada dua pria ketika mereka mencoba membuka kembali tambang lignit yang berbasis di desa pedesaan di Kreta. Film ini berdurasi 142 menit dan telah dirilis dalam bahasa Inggris dan Yunani. Itu menghasilkan $ 23,5 juta di box office.

8. Matewan

Matewan adalah sebuah film drama Amerika yang disutradarai oleh John Sayles dan dirilis 28 Agustus 1987. Film ini mendramatisir peristiwa Pertempuran Matewan, pemogokan penambang batu bara pada tahun 1920 di Matewan, Virginia Barat. Pemogokan terjadi ketika Perusahaan Batubara Gunung Batu mengumumkan pemotongan gaji yang akan diterima para penambang setelah para penambang berorganisasi menjadi serikat pekerja.

9. There will be blood

There Will Be Blood adalah film drama sejarah Amerika yang dirilis pada tahun 2007, yang menceritakan tentang seorang penambang yang jatuh dan kakinya patah, menuntunnya untuk menemukan minyak dan membuka perusahaan pengeborannya sendiri. Film ini secara luas dianggap sebagai salah satu film terbaik tahun 2000-an dan pada tahun 2016 terpilih sebagai film terbaik ketiga abad ke-21, dipilih oleh 177 kritikus film di seluruh dunia.

10. Powaqqatsi: Life in Transformation

Powaqqatsi adalah sebuah film dokumenter Amerika Serikat tahun 1988 yang disutradarai oleh Godfrey Reggio dan merupakan sekuel dari Koyaanisqatsi.

Ini adalah film kedua dalam trilogi Qatsi. Film tersebut tidak memiliki dialog, dan mendokumentasikan kehidupan pria dari Serra Pelada, sebuah tambang emas di Brasil. Film ini dibuat untuk menunjukkan konflik di negara dunia ketiga antara cara hidup tradisional dan cara hidup baru yang diperkenalkan dengan industrialisasi.

Ulasan ‘Magic Mike’s Last Dance’: Pengupasan ke Bare Essentials
Review

Ulasan ‘Magic Mike’s Last Dance’: Pengupasan ke Bare Essentials

Ulasan ‘Magic Mike’s Last Dance’: Pengupasan ke Bare Essentials – “Apa yang diinginkan seorang wanita?” Sigmund Freud terkenal mengakui bahwa dia telah menghabiskan sebagian besar karirnya bingung dengan pertanyaan itu. Pada abad ke-21, tampaknya sutradara Steven Soderbergh , penulis skenario Reid Carolin, dan ahli teori psikoanalitik heterodoks Channing Tatum telah menemukan jawaban yang tidak pernah diimpikan oleh Freud: Magic Mike.

Ulasan ‘Magic Mike’s Last Dance’: Pengupasan ke Bare Essentials

coalcountrythemovie – Dalam “Magic Mike’s Last Dance”, bab terakhir dalam trilogi tentang nafsu, ambisi, dan kebugaran perut di zaman modern, Mike berfokus pada hasrat seorang wanita khususnya, seorang warga London kaya bernama Maxandra Mendoza. Tetapi sumber daya tarik Mike – hati sebesar trapeziusnya, bertekad sekuat glutesnya, karakter sekuat paha depan – tidak berubah.

Baca Juga : Review Film Enter the Dragon, Film Terakhir Bruce Lee

Lebih dari satu dekade telah berlalu sejak film pertama, “Magic Mike” (2012), yang diikuti oleh “Magic Mike XXL” (disutradarai oleh Gregory Jacobs) pada tahun 2015. Mike Lane, paruh baya dengan anggun, masih tinggal di Florida Selatan , tapi dia tidak berada di tempat yang dia impikan dalam hidup. Seorang narator (yang ternyata menjadi tokoh penting) memberi tahu kami bahwa Mike telah kehilangan bisnis furnitur kesayangannya. Dia juga tampaknya telah menggantung teman-temannya yang telanjang punggung dan seragam polisi palsunya dan berdagang stripping untuk bartending di acara amal yang mewah.

Di salah satunya, dia bertemu Maxandra – dia dipanggil Max, dan diperankan dengan ketidaksopanan agung oleh Salma Hayek Pinault yang menemukan latar belakangnya dalam tarian ekspresif dan mempekerjakannya untuk pertunjukan pribadi. Mereka menetapkan harga dan menetapkan batasan yang segera dilanggar. Dia bilang dia tidak mempekerjakannya untuk seks, dan ketika mereka berhubungan seks, dia menolak pembayaran. Ambiguitas etis dan lainnya yang diangkat oleh pertemuan ini berpotensi menarik, tetapi film tersebut kebanyakan memiliki masalah lain dalam pikirannya.

Setiap film “Magic Mike” telah mengeksplorasi hubungan seks, seni, dan uang dari sudut yang berbeda. “Magic Mike” adalah tentang bagaimana, di pasar tenaga kerja yang genting, seorang pekerja manggung dapat merebut martabat dan otonomi dari kondisi yang penuh dengan eksploitasi. “XXL” menekankan kesenangan luar biasa dalam menjual diri sebagai komoditas kelas atas dan pemenuhan estetika untuk memuaskan pelanggan. “Last Dance” adalah tentang hubungan antara artis dan pelindung, dan juga tentang sesuatu yang tidak dapat direduksi menjadi transaksi libidinal atau ekonomi.

Dengan kata lain, ini adalah kisah cinta. Yang membuat sedikit canggung, untuk Max dan Mike dan untuk film itu sendiri. Panggilan Mike sebagai penari telanjang adalah untuk mewujudkan objek laki-laki dari fantasi perempuan – atau, mengingat kepenulisan bersama Tatum, Carolin dan Soderbergh, gagasan laki-laki tentang apa yang dirindukan perempuan. Dia dan rekan penarinya menyempurnakan koreografi angkuh dan menyerah, sebuah penerapan penaklukan yang menyandikan ketundukan sebagai bentuk keberanian tertinggi.

Dalam “Tarian Terakhir”, urutan tarian yang tidak melibatkan Mike mempertahankan tradisi itu, bahkan saat, di luar panggung, Mike berevolusi menjadi objek fantasi yang berbeda. Dia tidak hanya seharusnya menjadi perwujudan pria sempurna yang berkemah, tetapi hal yang nyata.

Setelah terbang ke London, tempat Mike dipasang di ruang tamu, dia dan Max memulai kolaborasi kreatif yang rumit. Suami Max yang tidak setia (yang bertemu sebentar dengan Alan Cox) memiliki sebuah teater bersejarah, dan Max menyewa Mike untuk menyutradarai versi seksi dari drama kostum kolot, mengubahnya menjadi tontonan yang membangkitkan gairah maskulin dan pemberdayaan feminis. Yang berarti mempekerjakan banyak penari telanjang.

Orang-orang itu melakukan pekerjaannya dengan kompeten, meskipun London mungkin bukan kota pertama yang terlintas dalam pikiran ketika Anda memikirkan bongkahan daging pria berotot yang beriak dan berkilau. Dan hanya ketika Tatum sendiri naik ke panggung, untuk memercik dan menggeliat bersama Kylie Shea , panas dan kelembapan naik ke tingkat Floridian yang sesuai.

Seperti pendahulunya, “Last Dance” tidak pernah lupa bahwa itu adalah musikal. Soderbergh, juga menjabat sebagai sinematografer dan editor (dengan nama samarannya yang biasa, Peter Andrews dan Mary Ann Bernard), mengawasi tubuh yang sedang bergerak. Nomor dansa, yang dikoreografikan oleh Alison Faulk dan Luke Broadlick, kali ini terasa agak jinak, tetapi film tersebut tetap memberikan penghormatan yang besar pada kerajinan terpsichorean yang dipraktikkan oleh Tatum dan anggota pekerja keras dari ansambel Mike.

Namun, sebagai romansa, ini menunjukkan kaki yang datar dan ritme yang balky. Ada beberapa karakter sekunder komik, yang secara samar-samar mewujudkan varietas Inggris yang sudah dikenal – seorang birokrat kota yang tertekan (Vicki Pepperdine); seorang pelayan laki-laki penggerutu (Ayub Khan Din); seorang remaja berlidah tajam (Jemelia George yang luar biasa) – tetapi Max dan Mike mendiami dunia yang dibayangkan secara tipis dan datar.

Hayek Pinault dan Tatum memiliki chemistry yang menggiurkan, tetapi skrip tidak selalu membantu mereka mengaktifkannya. Semua drama berasal dari Max, yang tingkah dan perubahan suasana hatinya terkadang melengkapi dan terkadang berbenturan dengan humor Mike yang stabil.

Pesonanya yang mudah dan tak ada habisnya mungkin, akhirnya, menghalangi. Pria ini sangat ramah, sangat membumi, sangat sopan sehingga dia mencapai semacam kepasifan kosong. Kesopanannya mulai terasa seperti cara menolak hubungan emosional, baju zirah yang lalai dilepasnya saat melepaskan kostum lainnya.

Review Film Enter the Dragon, Film Terakhir Bruce Lee
Film

Review Film Enter the Dragon, Film Terakhir Bruce Lee

Review Film Enter the Dragon, Film Terakhir Bruce Lee – Klasik minggu ini di Podcast Tinjauan Film Kritikus Semua Orang adalah Enter the Dragon , film terakhir dalam karir Bruce Lee yang terlalu singkat. Saya memiliki sedikit paparan film kung fu selama hampir 20 tahun saya sebagai kritikus film.

Review Film Enter the Dragon, Film Terakhir Bruce Lee

coalcountrythemovie – Selain dari beberapa keju tahun 80-an seperti The Last Dragon atau karya Jackie Chan, saya kebanyakan mengabaikan genre yang telah menghapusnya berdasarkan stereotip yang dibangun dari tahun-tahun tiruan Bruce Lee dan uang tunai yang memburuk lebih dari sekadar saya. tentang gagasan film kung fu sebagai apa pun selain sisi sedih dari genre film-B.

Baca Juga : Review Film Twin Dragons, Film Terbaik Jackie Chan

Sayangnya , menonton Enter the Dragon untuk pertama kalinya bukanlah wahyu bagi saya. Sementara saya pergi dengan rasa hormat yang besar mengapa penggemar sangat menyukai Bruce Lee sebagai pemain, saya menemukan film itu tidak terlalu istimewa.

Daya tarik Lee berjalan jauh untuk membuat hal yang dapat diprediksi, berbatasan dengan cerita konyol yang layak ditonton, tetapi waktu layar yang dihabiskan untuk menunggu Lee mulai menendang pantat cukup membosankan dan saya mendapati diri saya melayang.

Di Enter the Dragon Bruce Lee berperan sebagai master seni bela diri, juga bernama Lee, yang direkrut oleh organisasi intelijen teduh untuk menghadiri turnamen seni bela diri yang dijalankan oleh penjahat super yang hanya ada di film seni bela diri, Tuan Han dimainkan oleh mantan bintang Drunken Master Shih Kien. Tuan Han memiliki pulaunya sendiri di Pasifik dan terlepas dari upaya terbaik dari badan intelijen ini, mereka tidak yakin apakah dia mengumpulkan senjata atau tidak.

Agensi membutuhkan Lee untuk berpartisipasi dalam turnamen seni bela diri mematikan yang diselenggarakan oleh Han di pulaunya dan mencari tahu apakah memang ada senjata ilegal yang memungkinkan militer internasional menyerang pulau itu. Lee setuju dengan misi tersebut dan kemudian mengetahui bahwa misi tersebut memiliki komponen pribadi untuknya. Kami bertemu ayah Lee dan dia memberi tahu Lee dan kami bahwa saudara perempuan Lee dibunuh oleh preman Han dalam pembunuhan yang tampaknya acak.

Mengapa ayah Lee menyembunyikan informasi ini sampai dia tahu bahwa Lee akan pergi ke pulau Han tidak dapat ditebak oleh siapa pun. Pada titik ini di Enter the Dragon Lee telah setuju untuk pergi ke pulau itu dengan tujuan menjatuhkan Han yang jahat.

Mengapa dia membutuhkan lebih banyak motivasi? Kilas balik serangan juga tidak istimewa karena para preman hanya muncul secara acak di Cina daratan, berkunjung dari pulau mereka, dan mereka melihat seorang gadis acak berjalan dengan ayahnya dan hal-hal menjadi sangat cepat. Dia melawan mereka untuk sementara waktu dan kemudian bunuh diri untuk menghindari pelecehan seksual oleh para preman.

Titik plot ini ceroboh dan tidak perlu, dan sementara itu memungkinkan wanita muda yang berperan sebagai saudara perempuan Lee memamerkan keahliannya yang luar biasa, hal itu tidak banyak membantu plot selain membuat Lee marah dan sedikit lebih bersemangat untuk melakukan pekerjaan yang sudah dia tetapkan. untuk dilakukan.

Saya mengerti ingin menambahkan komponen pribadi dan saya membuat ini menjadi plot balas dendam karena memberikan konflik bagi Lee yang menggunakan kung fu bukan sebagai gaya bertarung tetapi sebagai pembelaan atas alasan yang adil. Untuk kemudian menyerah pada balas dendam menciptakan ketegangan, perjuangan batin bagi Lee untuk memastikan dia melakukan apa yang dia lakukan untuk alasan yang benar.

Sayangnya, rangkaian adegan dari perekrutan Lee hingga kisah tentang saudara perempuannya dan emosinya yang bertentangan tentang balas dendam sangat dirusak sehingga kita hampir tidak dapat memahami apakah Lee memang membalas dendam atau masih menganggap ini sebagai misi.

Direktur Robert Crouse kemudian menambah kesalahan ini dengan memasukkan perkenalan yang sangat panjang dan melibatkan karakter sampingan yang dimainkan oleh Jim Kelly dan John Saxon sebagai sesama pesaing di turnamen Han. Berjam-jam sepertinya berlalu saat karakter-karakter ini diperkenalkan dan naik perahu dari Tiongkok ke pulau Han.

Turnamen itu sendiri adalah kekacauan lain tanpa aturan atau desain apa pun. Pesaing dipilih secara acak untuk bertarung dan sementara pertarungan dikoreografikan dengan sangat baik oleh Bruce Lee sendiri, tidak mungkin untuk menentukan apa inti dari turnamen itu, bagaimana seseorang menang atau kalah, dll. sampai mati dan itulah yang membuat turnamen itu sangat berbahaya, tetapi film tersebut tidak memberikan indikasi.

Untuk penjahat super, Han tidak terlalu cerdas. Turnamennya dengan mudah disusupi oleh Lee yang kemudian berkeliling pulau dengan cepat menemukan simpanan kriminal rahasia Han dan kemudian melaporkan kembali ke penangannya.

Lee, setidaknya, mendapat kesempatan untuk melakukan banyak perkelahian selama adegan-adegan ini mendapatkan kesempatan untuk meneriaki preman demi preman tak berwajah, tetapi filmnya sangat ceroboh sehingga saya telah membaca lebih dari satu akun yang mengklaim Han adalah pengedar narkoba dan lainnya. mengaku sebagai pedagang senjata dan sebagainya. Ini sangat berantakan dan hanya ada sedikit perhatian pada karakter dan cerita seputar pertarungan Lee sehingga, saya percaya, banyak kritikus hanya mengisi kekosongan sebaik mungkin dalam menggambarkan film tersebut.

Semua itu mengatakan, Bruce Lee sangat karismatik. Lee memiliki layar dengan kehadirannya dan ketika dia menanggalkan bajunya dan memamerkan tubuh kurus dan robek itu, dia mengambil aura bintang film sejati. Koreografi pertarungan di Enter the Dragon sangat indah, brutal, dan mengasyikkan. Setiap gerakan fisik Bruce Lee menarik perhatian dan efek suara yang berlebihan menambah dimensi lain pada kehadiran fisiknya yang meskipun agak murahan, tetap ikonik dan mengagumkan.

Enter the Dragon bukanlah kekecewaan besar bagi saya karena saya tidak masuk dengan harapan tinggi, pandangan saya telah lama dibentuk oleh begitu banyak tiruan Bruce Lee yang buruk dan film komik Jackie Chan. Yang mengatakan, saya tidak berharap itu menjadi seburuk dan ceroboh seperti itu. Syukurlah, tidak terlalu buruk sehingga membuat saya memiliki pandangan negatif terhadap Bruce Lee.

Lee adalah seorang bintang film sejati dan bahkan dalam adegan tenang atau adegan dialognya, dia menyampaikan kepribadian dan karisma yang diperkuat oleh fisiknya yang luar biasa. Lee cukup baik sehingga saya dapat merekomendasikan Enter the Dragon hanya berdasarkan kesempatan untuk melihat Lee di puncak kekuatannya. Anda mungkin ingin maju cepat ke adegan perkelahian, terutama yang menjelang akhir film.

Kita akan berbicara tentang Enter the Dragon di Podcast Kritikus Semua Orang berikutnya yang tayang setiap hari Senin di EveryonesACritic.com dan di iTunes. Kami memilih Enter the Dragon minggu ini karena bertepatan dengan perilisan film biografi baru Bruce Lee Birth of the Dragon dari WWE Films. Kami juga akan berbicara tentang rilis baru Leap , Wind River dan All Saints dan film 1987 The Fourth Protocol , House 2, dan banyak lagi.

Review Film Twin Dragons, Film Terbaik Jackie Chan
Film

Review Film Twin Dragons, Film Terbaik Jackie Chan

Review Film Twin Dragons, Film Terbaik Jackie Chan – Tahukah Anda bahwa salah satu anggota kru yang terkait dengan film ini sebenarnya bernama ‘Wing Wang Wong’? Ya. Aku tidak bercanda, sobat. Jika beruntung, Anda mungkin bisa melihatnya sekilas saat menonton film 100 menit yang dibuat pada tahun 1992 ini. Disutradarai bersama oleh Ringo Lam, dan Tsui Hark, dan Dibintangi: Jackie Chan, Maggie Cheung, dengan Teddy Robin Kwan.

Review Film Twin Dragons, Film Terbaik Jackie Chan

coalcountrythemovie – Tiga puluh tahun yang lalu kurang lebih beberapa bulan sepasang kembar identik dipisahkan saat lahir ketika seorang narapidana yang melarikan diri atau ‘penjahat’ bagi Anda dan saya secara tidak sengaja berlari ke kamar rumah sakit ibu mereka, dalam upaya vena untuk menjauh dari polisi.

Baca Juga : Review Film The Village In The Woods

Tentu saja, peristiwa yang mengubah hidup ini mendorong kedua anak ini ke arah yang sama sekali berbeda. Sementara salah satu dari mereka diasuh dalam masyarakat istimewa, dan akhirnya menjadi konduktor orkestra terkenal dunia, John Ma (Jackie Chan). Yang lainnya terlempar ke dunia yang penuh dengan kung-fu dan mobil-mobil cepat, dan akhirnya menjadi aku. Boomerer (juga Jackie Chan).

OKE. Saya harus mengakui. Pada saat itu saya tidak tahu apa-apa tentang semua ini karena saya memikirkan hal-hal lain. Seperti main-main dengan sobat Tyson (Teddy Robin Kwan) misalnya. Atau berusaha agar kepalaku tidak ditendang oleh sindikat kejahatan jahat, dipimpin oleh Boss Wing (Alfred Cheung).

Hai! Jangan khawatirkan dirimu, teman-teman. Meskipun orang-orang Wing terus menyerang saya, hari demi hari, saya masih bisa jatuh cinta dengan seorang gadis hebat bernama Barbara (Maggie Cheung), sementara saudara laki-laki saya yang hilang berakhir dengan sedikit rok bernama Tammy (Nina Li Chi) .

Kemudian lagi, kemungkinan besar itulah mengapa apa yang terjadi selanjutnya menjadi sedikit membingungkan ketika dua saudara kandung yang telah lama hilang pergi ke kamar mandi bersama. Saat kepala kerabat yang berduel – calon kekasih bertukar tempat tidur – Boss Wing menyebabkan kehebohan – dan pada akhirnya, pernikahan keluarga menjadi kabur yang berbahaya namun kekeluargaan.

Pada tingkat konseptual saya akan mengatakan ‘Naga Kembar’ adalah salah satu film di mana yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk. Sekarang dengan segala hormat kepada semua orang yang terlibat, mayoritas pujian positif saya ditujukan kepada Jackie dan timnya karena melakukan beberapa aksi yang sangat spektakuler. Plus untuk waktu itu saya harus menyebutkan bahwa saya menemukan konsep dasar di balik film ini juga sangat berani.

Namun, justru karena sifatnya yang berani, komedi kung-fu ini gagal total. Nah, dari sudut pandang saya, tentu saja, beberapa efek khusus yang digunakan sepanjang film ini tampak agak kaku dan tidak wajar dalam pelaksanaannya. Dan pada gilirannya, ‘kualitas palsu’ ini sebenarnya mengalihkan perhatian saya dari menikmati apa yang terjadi di layar dengan si kembar Jackie plus orang-orang di sekitar mereka.

Juga, sampai batas tertentu ada ‘prediktabilitas yang bergelombang’ pada keseluruhan struktur naratif. Seolah-olah pembuat film ini duduk dan berkata di antara mereka sendiri, ‘Oke teman-teman, kita membutuhkan sedikit drama, sedikit komedi, dan sedikit aksi dalam produksi ini. Tetapi jangan sekali-kali salah satu dari ketiga elemen ini bergabung pada saat yang bersamaan’.

Dan bagi saya secara pribadi pendekatan ini entah bagaimana membuatnya terasa hampa. Bahkan kekanak-kanakan. Plus itu memang memiliki cara ‘menunda yang tak terhindarkan’ yang sangat menjengkelkan, terutama ketika si kembar terus merindukan satu sama lain, lagi, dan lagi, dan lagi, sampai yah saya yakin Anda tahu di mana saya ‘ aku akan pergi dengan ini?

Namun terlepas dari kekurangan yang dicatat ini, secara umum saya lebih menikmati menonton film ini. Yang menonjol bagi saya adalah Jackie sendiri, yang berhasil memainkan dua peran yang sangat berbeda tanpa membuat mereka merasa seperti orang yang sama.

Di satu sisi karakter Boomer adalah orang yang selalu menggeram secara konsisten, sementara di sisi lain karakter John adalah tipe pria yang sopan dan canggih. Dan selain itu, sebagian besar urutan aksi cukup memenuhi standar tinggi Jackie yang biasa, meskipun sedikit berlarut-larut dan terhuyung-huyung pada akhir film.

Bagaimanapun. Sekarang saya yakin Anda tahu apa yang saya rasakan tentang film ini. Ada bagian yang bagus di dalamnya. Itu memiliki bagian yang buruk di dalamnya. Dan dilengkapi dengan fakta filmis berikut ini.

  1. ‘Golden Harvest’ pertama kali menayangkan produksi ini di Hong Kong pada tanggal 15 Januari 1992, dan semua keuntungannya masuk ke ‘Hong Kong Directors Guild’.
  2. Sepanjang keberadaannya, proyek ini telah diberi judul alternatif, ‘Brother vs. Brother’, ‘Double Dragon’, ‘Duel of Dragons’, dan ‘When Dragons Collide’.
  3. Salah satu tagline yang digunakan untuk mempromosikan gambar ini adalah, ‘Kembar. Salah satunya master seni bela diri. Yang lainnya adalah seorang maestro. Sekarang, mereka akan menunjukkan kepada dunia bahwa dua Chan lebih baik dari satu’.
  4. Menurut Ringo Lam, salah satu dari dua co-director yang mengerjakan film ini,
  5. Sayangnya ‘adegan menyanyi’ Maggie Cheung dipotong dari versi Amerika dari petualangan ini karena panjangnya.
  6. Teddy Robin Kwan tidak hanya membintangi film ini dan membantu menulisnya, tetapi dia juga memiliki grup pop sendiri di tahun enam puluhan bernama, ‘Teddy Robin and the Playboys’.
  7. Jackie Chan pernah menyatakan di media bahwa dia sangat tidak senang dengan efek khusus yang terlihat dalam produksi ini, sehingga di masa mendatang dia hanya akan membuat film jenis ini diAmerika.
  8. Jika Anda melihat lebih dekat, saya yakin Anda akan melihat cukup banyak penampilan cameo berikut yang dibuat dalam film ini. Misalnya: sutradara ‘Hand of Death’, John Woo, berperan sebagai pendeta di pesta pernikahan. Sutradara ‘Once Upon A Time In China’, Tsui Hark, berperan sebagai salah satu pria yang berjudi dengan kartu. Sutradara ‘Drunken Master’, Ng See-yuen, berperan sebagai montir mobil. Dan lawan main Jackie di ‘Twinkle, Twinkle, Lucky Star’, Eric Tsang, berperan sebagai pria di telepon.

Secara keseluruhan saya akan mengatakan ‘Twin Dragons’ adalah film yang harus dilihat oleh setiap penggemar Jackie Chan. Dalam banyak hal, ini agak mengingatkan pada karya-karyanya yang berbasis di Australia, ditambah lagi dengan percikan hi-jink tahun delapan puluhan yang dilemparkan untuk ukuran yang baik. Tidakkah kamu setuju, teman lama Jackie?

Review Film The Village In The Woods
Film

Review Film The Village In The Woods

Review Film The Village In The Woods – Setiap desa, setiap orang memiliki rahasia. Di hutan keruh di salah satu lokasi di pedesaan Inggris, dua orang asing akan bertabrakan dengan penduduk setempat di The Village in the Woods . Distribusi Film Lightbulb dan Brake3 membuat penawaran Horor Rakyat tersedia Sesuai Permintaan, serta untuk diunduh di semua platform digital utama, mulai Senin, 14 Oktober 2019.

Review Film The Village In The Woods

coalcountrythemovie – Bangkrut karena keberuntungan mereka, Rebecca ( film TV Beth Park: Killing All the Flies 2013 , Operator short 2014 ) dan Jason (Robert Vernon: Final Fantasy XIV: video game Stormblood 2017 , Saudade short 2018 ) diberi kesempatan penebusan ketika salah satu pasangan mewarisi sebuah pub tua di desa Coopers Cross yang erat.

Baca Juga : Review Film Every Breath You Take (2021) 

Terus-menerus diselimuti kabut tebal, komunitas kepulauan menyambut pasangan muda itu dengan sedikit terlalu bersemangat, dengan Maddy yang menggoda (Therese Bradley: Half Light 2006 , The Railway Man 2013 ) menggelar kereta selamat datang bahkan sebelum pasangan itu berada di dalam rumah baru mereka. Segera setelah itu, mereka bertemu dengan Charles yang intens (Richard Hope: seri Poirot Agatha Christie, seri Broadchurch ) dan kehadiran menghantui yang dikenal sebagai Arthur (Sidney Kean: Lifeforce 1985 , Hanuman 1998 ).

Melengkapi grup adalah Vince (Timothy Harker: Peaky Blinders series , Coronation Street series ) dan Emily (Rebecca Johnson: The Trip 2010 ,Perjalanan ke Italia 2014 ). Sulit untuk menyalahkan penduduk setempat karena terlalu ramah, tetapi pasangan muda ini masih gelisah di lingkungan baru mereka. Ketika salah satu kelompok memperingatkan Rebecca bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, tiba-tiba menjadi jelas bahwa tidak semua orang seperti yang mereka klaim di Coopers Cross dan si penipu akan segera ditipu.

Berdurasi 82 ​​menit, The Village in the Woods adalah karya cinta sejati untuk Raine McCormack ( The Souvenir short 2013 , I Shall Visit short 2015 ) yang membuat debut penyutradaraan panjangnya dengan film tersebut, ikut menulis skenarionya, dan menyusun skor asli. Ditulis bersama John Hoernschemeyer ( seri Lostfriesland , seri FAITHLESS ), film ini juga menampilkan bakat akting Katie Alexander Thom ( seri Game of Thrones , The Girls Were Doing Nothing short 2019 ), Phill Martin ( Pan 2015 , Cannibals and Carpet Fitters 2017 ), dan Chloe Bailey.

Ditagih sebagai perpaduan Horor, Misteri, dan Thriller, The Village in the Woods juga dapat dideskripsikan secara lebih ringkas sebagai Folk Horror: genre neo noir yang memadukan skenario yang lambat terbakar dengan atmosfer yang menghantui. Ini bukan film yang penuh dengan lompatan-ketakutan atau darah kental, melainkan “surat cinta gelap untuk bioskop tahun 70-an” yang diproklamirkan oleh Sutradara McCormack.

Sementara Horor modern cenderung mencari yang serampangan dan menusuk hati pemirsanya dengan poin plotnya, The Village in the Woods tetap kabur seperti kabut tipis yang melapisi hutan dan Coopers Cross berwarna abu-abu. Dengan unsur-unsur yang mengingatkan pada Rosemary’s Baby (1968) dan anggukan halus pada okultisme, film ini menawarkan banyak saran halus (dan beberapa tidak begitu halus) untuk menggerakkan pemirsa dalam pemahaman mereka tentang plotnya, tetapi jelas merupakan gerakan lambat yang disengaja. membakar yang terbayar dalam banyak rasa menakutkan.

Pemerannya yang luar biasa tentu meningkatkan suasana hati secara keseluruhan. Park dalam penampilan utama sebagai Rebecca yang gelisah dan gelisah, Park menyediakan jangkar bagi lawan mainnya untuk menampilkan penyampaian mereka yang sangat meresahkan. Penampilan Bradley yang memikat sebagai cougar Maddy membuat seluruh film beraksi saat dia bergerak di layar dengan keanggunan kucing, tidak pernah menakutkan tetapi selalu terlalu berlebihan untuk situasi apa pun.

Demikian pula, Harapan memberikan penampilan yang luar biasa sebagai Charles, yang tidak pernah benar-benar melintasi wilayah kumuh meskipun dia selalu mengikuti garis dengan indah. Dengan kehalusan yang luar biasa untuk semua yang dia lakukan, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Hope memungkinkan karakter pria tua necis yang bisa sama sekali tidak berbahaya meskipun dia mungkin juga beracun.

Difilmkan di East Sussex, Kent, dan Somerset, Inggris Raya, The Village in the Woods menggunakan pemerannya yang luar biasa, pemandangan alam yang indah, dan arsitektur yang berani, bersama dengan sinematografi yang moody dari Jamie Hobbis ( The Wereth Eleven 2011 , Dangerous Game 2017 ) dan Berndt Wiese ( Viking Relics short 1992 , In The Deathroom short 2019 ) untuk melukis intensitas suasana hati. Dengan nuansa neo noir yang luar biasa pada produksinya, diakhiri dengan skor aslinya yang menakutkan, film ini adalah jam tangan yang sangat menyenangkan bagi siapa saja yang menyukai Horor jadul dengan ciuman Misteri.

Setiap desa memiliki rahasia, begitu juga setiap orang. Saat kedua fakta ini bertabrakan di hutan, satu pasangan muda tidak akan pernah sama lagi. Sangat meresahkan dengan atmosfir Cimmerian, The Village in the Woods sangat cocok untuk tontonan bulan Oktober. Untuk ini, Cryptic Rock memberikan film 4,5 dari 5 bintang.

Review Film Every Breath You Take (2021)
Film

Review Film Every Breath You Take (2021)

Review Film Every Breath You Take (2021) – Mengeksekusi film thriller yang mengasyikkan bukanlah hal yang paling mudah. Every Breath You Take dapat membuktikan betapa sulitnya untuk memikat audiens sambil memberikan intensitas bersama dengan beberapa putaran dan putaran. Para pemeran melakukan banyak pekerjaan berat dalam film, yang menghindari eksplorasi trauma karakter.

Review Film Every Breath You Take (2021)

coalcountrythemovie – Drama emosional adalah kendaraan yang memicu cerita berantakan dalam sebuah film yang terutama berkaitan dengan mengangkat misteri yang begitu mudah terurai pada akhirnya. Tiga tahun setelah kematian putra mereka, Phillip (Casey Affleck), seorang psikiater yang meneliti cara baru untuk membantu pasiennya, dan Grace (Michelle Monaghan), seorang makelar, menghadapinya dengan cara mereka sendiri.

Baca Juga : Review Film The School for Good and Evil: Semua Estetika dan Tanpa Substansi

Phillip terjun lebih dulu ke pekerjaannya saat semakin jauh dari keluarganya (hingga frustrasi), Grace berusaha untuk menjaga kenormalan dan keseimbangan, dan putrinya Lucy (India Eisley) dikeluarkan dari sekolah. Hidup mereka benar-benar kacau setelah pasien Phillip, Daphne, meninggal karena bunuh diri. Ketika saudara laki-lakinya James Flagg (Sam Claflin), seorang penulis, disambut di rumah dan kehidupan Phillip, hal-hal berubah menjadi aneh dan berbahaya.

Sementara Setiap Napas Anda Ambilmenumbangkan ekspektasi penonton pada awalnya, mengubah arah setelah kecelakaan tragis urutan pembukaan, film tersebut kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi trauma dan kesedihan karena kehilangan seorang anak.

Mungkin jalan inilah yang coba dihindari oleh sutradara Vaughn Stein dan penulis David K. Murray, tetapi kurangnya eksplorasi sangat membebani film yang entah bagaimana kurang menarik dan kaya karena penghindarannya untuk menggali lebih dalam.

Studi penelitian Phillip yang membuatnya menawarkan kisah hidupnya sendiri untuk membuat Daphne nyaman berbagi kisahnya sendiri dan karena itu membuatnya merasa tidak terlalu sendirian menarik dengan sendirinya. Namun, film tersebut mempersenjatainya untuk memicu tindakan James, mengubah ceritanya menjadi film thriller berisiko tinggi, yang melelahkan sekaligus datar. Bahkan di saat-saat paling mendebarkan,

Terlebih lagi, ada sedikit logika sehubungan dengan beberapa plot, yang bergantung pada misteri James dan mengapa dia berusaha untuk semakin dekat dengan keluarga Phillip. Pada saat putaran terakhir, Every Breath You Take akan membuat pemirsa menggaruk-garuk kepala bertanya-tanya mengapa Phillip tidak melakukan pencarian Google yang lebih menyeluruh.

Begitu fokus pada mengungkap keluarga, karier, dan rasa aman Phillip, film ini menghindari banyak kesulitan emosional yang akan memperkuat beberapa momen kuncinya. Yang paling membuat frustrasi adalah penggambaran Lucy dari India Eisley, yang berperan sebagai remaja yang moody dan jauh secara emosional, tetapi mungkin merupakan karakter yang paling terbelakang.

Sam Claflin melakukan sebagian besar pekerjaan berat di sini, menggambarkan James dengan keseimbangan karisma, daya pikat yang sulit dipahami, dan bahaya yang diperhitungkan. Aktor ini telah bermain dalam drama, fantasi, dan film roman, tetapi dia tidak pernah memainkan karakter bengkok seperti James sebelumnya dan sangat menarik untuk menonton peran Claflin saat karakternya terurai.

Penampilan James tampaknya dipertanyakan sejak awal, meskipun sejauh mana dia tidak dapat dipercaya akhirnya menjadi kejutan yang sebenarnya. Performa Affleck baik-baik saja jika dibandingkan. Dia murung dan tidak mampu mengungkapkan perasaannya. Dalam kasus ini, sang aktor memerankan Phillip sebagai pria yang begitu dekat dengan perasaannya yang meledak jika didorong cukup jauh.

Sementara ceritanya sebagian besar terfokus pada karakter Affleck, Monaghan-lah yang mengungguli dia dalam perannya yang lebih kecil. Aktris ini sangat baik dalam menyampaikan kesedihan, teror, dan desahan kelelahan yang melekat di hampir semua interaksinya. Dia seorang wanita yang hanya mencoba bertahan, menahan seluruh emosinya yang begitu dekat, namun begitu jauh dari permukaan.

Setiap Nafas yang Anda Ambil memiliki banyak ide yang, secara terpisah, mungkin berhasil. Sayangnya, film ini, meski kohesif, tidak pernah sesuai dengan potensi cerita yang dibuatnya di awal. Thriller psikologis menarik ketika benar-benar menjelajahi interior karakternya, tetapi Every Breath You Take nyaris tidak melewati permukaan tema atau cerita latar yang disajikannya.

Ini mengalihkan fokusnya ke membangun ketegangan, tetapi akan lebih memuaskan jika Stein dan Murray bertahan lebih lama pada karakternya. Karena plotnya semakin membosankan, film ini kehilangan kemampuannya untuk menyatukan semuanya. Liku-liku hanya bisa melakukan banyak hal.

Review Film The School for Good and Evil: Semua Estetika dan Tanpa Substansi
Film

Review Film The School for Good and Evil: Semua Estetika dan Tanpa Substansi

Review Film The School for Good and Evil: Semua Estetika dan Tanpa Substansi – Sekolah untuk Kebaikan dan Kejahatan mengikuti kisah Sophie dan Agatha saat mereka dipindahkan ke sekolah tituler. Perubahannya adalah bahwa Sophie yang seperti putri mendarat di School for Evil yang tertutup kabut gotik sementara Agatha dijatuhkan di hamparan mawar di School for Good.

Review Film The School for Good and Evil: Semua Estetika dan Tanpa Substansi

coalcountrythemovie – Sejak awal, film tersebut mengklaim menumbangkan kiasan. Itu mengatur biner terang-terangan sekolah dengan semua janji untuk membongkarnya sepotong demi sepotong. Sayangnya, itu tidak menepati janjinya. Argumen Agatha melawan sekolah sangat jelas dan seluruh konflik terlalu disederhanakan. Faktanya, kata ‘baik’, ‘jahat’, ‘keindahan’ dan ‘keburukan’ terlalu sering digunakan sehingga Anda bosan mendengarnya di tengah-tengah.

Baca Juga : Review Film Slumberland, Sebuah Perjalanan Fantastis Melalui Negeri Impian 

Film ini mencoba membahas beberapa tema yang berbeda mulai dari perbedaan antara yang baik dan yang jahat hingga harapan yang mustahil dibebankan pada anak muda hingga kekuatan persahabatan. Namun masing-masing mendapat perlakuan ala kadarnya tanpa ada ruang untuk diskusi atau pendalaman.

Faktanya, di momen ironi yang menggelikan, karakter mengalami pergantian antara yang baik dan yang jahat dan semua perubahan itu adalah pakaian mereka! Pastel dan emas kerajaan untuk kebaikan dan pakaian hitam untuk kejahatan.

Kejahatan baru sekarang memiliki bekas luka di wajah mereka atas nama keburukan. Meski berkutat pada keindahan dan keburukan, film ini sama sekali tidak pernah menyelesaikan argumennya tentang penampilan fisik. Pada akhirnya, subjek hanya dikesampingkan.

Dan meskipun berdandan sebagai kritik terhadap dongeng, film tersebut masih menjadi mangsa klise tertentu. Salah satu yang paling mencolok adalah kiasan pemeran utama pria yang jatuh cinta pada gadis yang ‘tidak seperti yang lain’. Film ini tidak hanya gagal menonjol di antara lautan media fantasi, tetapi juga tidak memiliki substansi, terutama untuk hiburan dewasa muda. Fiksi YA selalu jauh lebih kompleks dan bernuansa daripada film ini yang memberikan kredit genre.

Seperti kebanyakan filmnya, bangunan dunia juga terasa datar dan hampa. Sophie dan Agatha dilemparkan langsung ke sekolah tetapi mereka tidak pernah menjelajahi dunia di luarnya. Film ini penuh dengan referensi ke karakter dongeng terkenal tetapi tidak lebih dari beberapa baris dihabiskan untuk mempelajari dunia atau bagaimana fungsinya.

Bahkan keajaiban itu samar-samar, tanpa aturan atau kekhususan untuk bekerja. Mengingat ini dimaksudkan sebagai tempat asal dari begitu banyak cerita yang disukai, ada banyak potensi untuk membuatnya menarik. Prospek utama kami menarik dan menyenangkan untuk di-root, tetapi tidak ada yang memiliki alur karakter yang memuaskan, setidaknya tidak meyakinkan.

Pemeran lainnya, yang sangat bertabur bintang, tidak memiliki banyak hal untuk dilakukan di luar peran spesifik yang mereka mainkan. Meskipun penampilannya sendiri luar biasa, tidak ada karakter yang mendapatkan kedalaman yang pantas mereka dapatkan. Ini suatu prestasi, mengingat waktu lari yang membengkak 2 jam 27 menit.

Tapi di mana tulisannya lemah, visualnya agak menggantikannya. Di antara semburan cahaya yang biasa, kami mendapatkan sihir darah yang mengesankan dan adegan di mana tato naga seorang gadis menjadi hidup langsung dari bahunya. Namun, ada beberapa kesalahan di departemen ini juga.

Pada satu titik patung dewa asmara menjadi hidup sebagai balita dan terlihat langsung dari lembah yang luar biasa. Balita itu kemudian berubah menjadi pria grizzly yang mengejar Agatha. Tampaknya mereka mencoba meniru labirin objek dan makhluk berbahaya Hogwarts, tetapi itu jauh dari efek yang sama.

Film berakhir dengan cara yang terlalu nyaman. Semuanya selesai, kesalahan dimaafkan, dan hubungan diperbaiki, tanpa perlu penjelasan apa pun. Perlu dikatakan bahwa ceritanya bermaksud baik, mencoba menunjukkan bahwa orang tidak murni baik atau buruk, mereka hanyalah manusia biasa.

Tapi narasinya gagal bukan hanya niat ini tetapi juga upaya para pemeran yang memukau dan beberapa artis VFX berbakat, meninggalkan Sekolah untuk Kebaikan dan Kejahatan lebih sebagai estetika daripada cerita dengan pesan yang bermakna.

Review Film Slumberland, Sebuah Perjalanan Fantastis Melalui Negeri Impian
Review

Review Film Slumberland, Sebuah Perjalanan Fantastis Melalui Negeri Impian

Review Film Slumberland, Sebuah Perjalanan Fantastis Melalui Negeri Impian – Slumberland secara longgar didasarkan pada komik Winsor McCay ‘Little Nemo in Slumberland’, yang pertama kali diterbitkan lebih dari seabad yang lalu.

Review Film Slumberland, Sebuah Perjalanan Fantastis Melalui Negeri Impian

coalcountrythemovie – Namun, sementara karya fiksi asli berpusat pada petualangan seorang anak laki-laki di dunia mimpi dan persahabatannya dengan seorang putri, adaptasi Netflix baru ini, dari sutradara Hunger Games Francis Lawrence, menukar gender protagonis dan membingkai plot di sekitar subjek yang adalah penyebab mimpi buruk kehidupan nyata: kematian dan kesedihan!

Baca Juga : Review Film Samaritan: Sylvester Stallone Memasukkannya ke Dalam Saga Superhero

Tema-tema ini telah dieksplorasi sebelumnya dalam film-film keluarga seperti Bambi, The Lion King, dan Coco, jadi bukan hal yang aneh untuk melihat subjek yang begitu berbobot disajikan dalam cerita yang dibuat untuk anak-anak. Dalam cerita film ini, seorang gadis muda bernama Nemo (diperankan dengan luar biasa oleh Marlow Barkley) kehilangan ayahnya (Kyle Chandler), yang meninggal di laut saat badai dahsyat.

Setelah kematian ayahnya, Nemo dikirim untuk tinggal bersama pamannya (Chris O’Dowd), pemilik bisnis gagang pintu, tetapi sementara dia melakukan yang terbaik untuk merawatnya, dia berjuang untuk membantu Nemo mengatasi perasaan duka. dia mengalami. Ini sebagian karena dia sendiri tidak pernah menjadi ayah dan sebagian karena dia tidak pernah sepenuhnya mengatasi emosinya sendiri setelah terasing dari saudaranya bertahun-tahun sebelumnya.

Nemo ingin sekali bersama ayahnya lagi, kemungkinan yang tampaknya mustahil jika bukan karena dunia fantastis Slumberland. Ini seharusnya menjadi tempat kita semua masuk setelah tertidur tetapi setelah memasuki dunia, Nemo menemukan bahwa itu adalah tempat nyata yang disatukan oleh Biro Aktivitas Bawah Sadar (BOSA), sekelompok agen yang memberi kita mimpi yang perlu kita alami. sambil memastikan ketertiban dipertahankan dalam dunia mimpi.

Segera setelah perjalanan awalnya ke Slumberland, Nemo bertemu dengan seorang penjahat nakal bernama Flip (Jason Momoa), karakter yang tidak biasa dengan tanduk di kepalanya yang tampaknya berhubungan dengan ayahnya. Dia berjanji untuk menyatukan kembali mereka tetapi agar reuni ini terjadi, Nemo mengetahui bahwa dia perlu menemukan mutiara ajaib yang akan memberinya kesempatan ini. Sayangnya, mutiara terletak di hamparan gelap Lautan Mimpi Buruk sehingga tidak mudah untuk mendapatkannya!

Flip bergabung dengan Nemo dalam pencariannya, sebuah misi yang dibuat lebih berbahaya karena mereka harus memasuki alam mimpi orang lain. Flip memperingatkan Nemo bahwa jika dia meninggal dalam mimpi-mimpi ini, dia tidak dapat kembali ke kehidupannya yang terjaga, jadi taruhannya tinggi ketika dia menavigasi dunia fantastik yang dialami oleh para pemimpi yang sedang tidur.

Urutan mimpi ini termasuk berkendara melalui kota kaca, pengalaman setinggi langit di belakang bebek raksasa, dan pesta di dalam ballroom mewah yang dihuni oleh orang-orang yang seluruhnya terbuat dari kupu-kupu. Urutan seperti itu sebagian besar terealisasi dengan baik, dengan perpaduan yang bagus antara efek visual dan set praktis yang menghidupkan dunia mimpi. Kadang-kadang ada saat-saat ketika jelas bahwa para pemain bertindak dengan latar belakang layar hijau tetapi anak-anak, yang terpesona oleh dunia yang dijelajahi Nemo, tidak mungkin melakukan pengamatan yang sama seperti orang tua mereka.

Momoa menyenangkan sebagai Flip yang nakal dan dia berhasil memberikan penampilan yang dapat dipercaya dan sensitif, terlepas dari karakternya yang fantastis. Barkley sama baiknya dengan rekannya yang lebih muda dan dengan kekuatan penampilannya di sini, dapat diasumsikan bahwa dia akan melanjutkan karir film impiannya di kehidupan nyata.

Pemeran di sekitarnya juga unggul dalam peran mereka, dari O’Dowd sebagai paman Nemo yang pendiam dan canggung hingga Weruche Opia (I May Destroy You), yang berperan sebagai Agen Hijau, seorang karyawan BOSA, yang telah memburu Flip selama beberapa dekade karena tindakannya yang melompat-lompat mengancam akan mengguncang dunia Slumberland.

Efek khusus yang layak dan pertunjukan yang mengesankan sangat membantu membenamkan kita ke dunia fantastis Slumberland dan ada banyak kesenangan yang bisa didapat saat kita menonton Flip dan Nemo melakukan perjalanan dari satu mimpi ke mimpi berikutnya. Tapi meskipun filmnya terkadang lucu dan mengasyikkan, kami terus-menerus diingatkan tentang alasan di balik misi Nemo dan inilah yang memberi inti emosional pada film tersebut.

Karena itu, kami tahu bahwa ini jauh lebih dari sekadar perjalanan rollercoaster yang menyenangkan melalui mimpi banyak orang. Ini adalah pencarian seorang gadis muda yang berduka yang ingin bersama ayah yang hilang dengan cara yang sangat tragis. Kesedihannya akan menjadi sesuatu yang banyak dari kita dapat hubungkan dan itulah alasan mengapa kita dapat terhubung dengan penderitaannya, meskipun dunia magis yang dia huni jauh dari kenyataan kita.

Pasalnya, film ini mengusung beberapa tema yang cukup berat sehingga mungkin tidak cocok untuk anak-anak yang sedang mengalami kesedihannya sendiri. Nemo diberi kesempatan untuk berhubungan kembali dengan ayahnya lagi, tetapi anak-anak yang tahu bahwa mereka tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu mungkin bergumul dengan sifat plot yang fantastis.

Karena itu, ini mungkin film yang didekati beberapa orang tua dengan hati-hati. Meskipun demikian, film tersebut masih dapat digunakan oleh orang tua mana pun yang ingin mengangkat topik kematian kepada anak-anak mereka karena film tersebut berisi beberapa pesan berguna tentang melepaskan kesedihan dan melanjutkan hidup. Slumberland adalah film yang menyenangkan untuk anak-anak dan orang dewasa, dengan momen-momen yang akan membangkitkan banyak tawa dan air mata sesekali.

Dengan demikian, ini dapat direkomendasikan untuk sebagian besar keluarga yang ingin menonton film fantasi menghibur yang memiliki kedalaman lebih sedikit daripada film sejenis lainnya. Itu tidak sempurna tulisannya kadang-kadang terlalu eksposisi tetapi berkat visual imajinatif dan cerita yang mengharukan, kekurangan kecil dalam film tidak mungkin membuat kita tetap terjaga pada saat kita seharusnya mengalami dunia mimpi kita sendiri.

Review Film Samaritan: Sylvester Stallone Memasukkannya ke Dalam Saga Superhero
Film

Review Film Samaritan: Sylvester Stallone Memasukkannya ke Dalam Saga Superhero

Review Film Samaritan: Sylvester Stallone Memasukkannya ke Dalam Saga Superhero – Dalam KO Ryan Coogler 2015 reboot Creed, petarung hadiah OG Rocky Balboa dengan bijak disimpan di luar ring untuk pertama kalinya, berfokus pada sesuatu yang bahkan lebih menakutkan daripada benar-benar dihajar: menjadi sangat tua.

Review Film Samaritan: Sylvester Stallone Memasukkannya ke Dalam Saga Superhero

coalcountrythemovie – Sylvester Stallone , yang persona layarnya telah sepenuhnya berubah menjadi parodi pada saat itu dengan serangkaian film aksi yang semakin melegenda, menemukan kedalaman baru dalam iterasi paling bertekstur dari karakternya yang paling terkenal, seorang pejuang yang terluka karena banyak pertempuran hidup. Itu memberinya nominasi Oscar yang sangat pantas dan mengisyaratkan mekarnya karier tahap akhir, yang bukan tentang tinju dan lebih banyak tentang perasaan.

Baca Juga : Review Bomb City, Film Tentang Deskriminasi Anak Punk di Texas

Tapi harapan seperti itu berumur pendek, aktor kembali ke peran yang mengharuskannya untuk menembak terlebih dahulu dan mengeluarkannya kemudian, sehingga tetap menjadi potensi yang belum dimanfaatkan, seorang pahlawan aksi yang dapat mengambil manfaat dari transformasi menjadi aktor karakter.

Dalam saga superhero Amazon yang tertunda Samaritan, satu-satunya penawaran non-franchise Stallone akhir-akhir ini (film terbaru termasuk The Suicide Squad, Escape Plan 3 dan Rambo 5 sementara selanjutnya adalah The Expendables 4 dan Guardians of the Galaxy 3), ada petunjuk singkat dari sesuatu yang lebih tetapi petunjuk singkat adalah semua itu. Itu hilang sebelum Anda menyadarinya, diganti dengan lebih banyak hal yang sama.

Hal serupa dapat dikatakan tentang film itu sendiri, pengaturan yang menyarankan belok kiri tetapi malah membawa kita ke jalan yang sangat familiar, tepat di tengah.

Awalnya difilmkan kembali pada tahun 2020 sebelum dilempar sekitar jadwal tiga kali dan kemudian diturunkan menjadi rilis hanya streaming ketika pendukung MGM dibeli oleh Amazon, Samaritan hadir dengan hasil bagi gloss yang lebih tinggi daripada banyak film digital pertama lainnya musim ini. Direktur Overlord Julius Avery adalah tangan yang kompeten dan bekerja dengan anggaran yang tampaknya layak, dia membuat kita merasa seperti berada di alam semesta yang tidak terlalu jauh dari Marvel dan DC yang kita kenal dengan baik.

Ceritanya, yang ditulis oleh Bragi F Schut dari Escape Room, adalah tentang Samaritan, seorang pahlawan yang jatuh yang menghilang bertahun-tahun sebelumnya ketika pertempuran dengan saudara penjahat supernya yang jahat, Nemesis, menyebabkan tragedi (diceritakan dengan cara terbuka yang jelek dan tidak meyakinkan). Javon Walton dari Euphoria berperan sebagai anak lokal yang terobsesi dengan legenda tersebut dan bertekad untuk menemukannya hidup-hidup. Ketika dia melihat seorang pria lokal yang mengesankan,

Stallone mendaur ulang bekas petarung beruban dari kedua film Creed tetapi dengan dimensi yang jauh lebih sedikit di sini, bukan kesalahannya sendiri, tetapi yang dibagikan dengan Schut, yang naskah genangan-dangkalnya tidak memberinya grit atau rawan yang nyata. Ada sesuatu yang menarik, jika belum pernah dijelajahi sebelumnya, tentang seorang pahlawan super yang memilih menghilang ke latar belakang setelah bertahun-tahun bekerja dan ada saran kecil tentang dunia yang dapat menampung karakter yang lebih kompleks.

Di Granite City, penggemar pahlawan dan penjahat tetap ada, dengan yang terakhir mendapatkan lebih banyak pengikut saat ekonomi menyusut, hingga anggapan bahwa pahlawan lebih peduli pada orang kaya dan penjahat untuk orang miskin. Tapi itu sebagian besar adalah sedikit penutup jendela untuk sebuah film yang sebaliknya membunyikan begitu banyak lonceng sehingga mereka mulai memekakkan telinga, tambahan yang agak sia-sia untuk genre yang paling diandalkan di industri ini.

Meskipun penurunan akhir musim panasnya bukanlah niat awal, sayangnya waktunya tidak tepat, tiba tepat setelah musim film Marvel yang mengecewakan dan terlalu banyak, Samaritan melakukan sangat sedikit untuk membuat kita ingin melihat lebih banyak lagi. Karena penyiapannya benar-benar hanya mengarah pada pertempuran baik-v-jahat potong-dan-tempel, karena pahlawan Stallone yang muncul kembali diadu melawan bos kejahatan yang terobsesi dengan memori Nemesis, baddie hafalan yang mengecewakan, dimainkan oleh Pilou yang basi dan menggeram.

Asbæk, lebih dikenal dengan Borgen dan Game of Thrones. Dinamika mereka sama tidak bersemangatnya dengan aksi di sekitar mereka, yang mungkin terlihat lebih apik daripada judul streaming rata-rata tetapi sebaliknya tidak dapat dibedakan, bubur api, peluru, dan baja.

Saat pasangan itu bertarung sampai mati, ada babak terakhir yang mengungkapkan bahwa hanya penonton yang paling tidak terlibat yang tidak akan melihat menit ke babak pertama dan sementara itu menawarkan jalan baru yang menarik untuk film turun, sayangnya mati. akhirnya, implikasinya setengah disarankan daripada dieksplorasi sepenuhnya.

Tidak diragukan lagi ada orang-orang yang masih mendambakan lebih banyak superheroik bahkan setelah musim panas yang lesu dan mungkin ketukan Samaritan yang mudah dan akrab mungkin terbukti layak untuk diklik dengan taruhan rendah. Bagi kita semua, ini adalah putaran baru yang terasa sangat basi, seorang Samaria kurang baik dan lebih biasa-biasa saja.

Review Bomb City, Film Tentang Deskriminasi Anak Punk di Texas
Film

Review Bomb City, Film Tentang Deskriminasi Anak Punk di Texas

Review Bomb City, Film Tentang Deskriminasi Anak Punk di Texas – Pada tahun 1997, ketegangan yang membara antara atlet dan bajingan di Amarillo, Texas, meledak dalam perkelahian di tempat parkir yang penuh kekerasan. Beberapa peserta membawa tongkat baseball, beberapa memutar rantai baja berat. Tapi seorang pemain sepak bola memiliki Cadillac sebagai senjata, dan menggunakannya untuk membunuh Brian Deneke , kekasih berusia 19 tahun di kancah punk.

Review Bomb City, Film Tentang Deskriminasi Anak Punk di Texas

coalcountrythemovie – Dua dekade kemudian, penduduk asli Amarillo, Jameson Brooks, melihat perkembangan dan akibat memalukan dari kejahatan di Bomb City ini , sebuah drama empati yang siap untuk menempatkan penonton langsung pada posisi subkultur yang difitnah. Dijamin dan efektif, ini layak mendapatkan rilis yang lebih luas daripada yang didapatkan dari distributor indie Gravitas Ventures.

Baca Juga : Review Film Salt of the Earth (1954 film)

Dave Davis berperan sebagai Brian, seorang anak berambut hijau yang suka berteman yang baru saja pulang dari perjalanan panjang ke New York City. Saat dia menyapa teman-teman lama di gudang yang berfungsi sebagai punk flophouse dan tempat musik, film tersebut tidak membuang waktu untuk mengungkap adegan mereka:

Ini memotong antara mosh pit mereka yang bahagia dan kebrutalan yang terjadi di seluruh kota di lapangan sepak bola, melihat sedikit perbedaan antara dua ritual kekerasan. Tapi di Amarillo yang hiperkonservatif , yang satu dipuja dan yang lain dipandang dengan rasa jijik yang tidak bisa dipahami.

Malamnya, beberapa teman Brian mampir untuk minum kopi di Mr. Frosty, sebuah gubuk makanan ringan tempat beberapa atlet meratapi akhir musim yang buruk. Cody Cates (Luke Shelton), seorang pemain universitas junior bertekad untuk menyesuaikan diri di antara saudara-saudaranya yang lebih besar, menyapa salah satu bajingan dengan “ada apa, homo ?” tidak ada yang tidak sejalan dengan cara para elit persaudaraan kota secara rutin merendahkan orang-orang aneh yang, setidaknya di mata Kota Bom , hanya meminta untuk dibiarkan sendiri. Keributan kecil terjadi kemudian, menandakan pertempuran yang akan datang.

Saat Brooks dan rekan penulis skenario Sheldon R. Chick menyempurnakan adegan punk, mereka sesekali melompat jauh ke depan ke ruang sidang tempat Cody diadili atas pembunuhan Brian. (Dalam menceritakan kembali ini, di mana peristiwa sebenarnya telah diubah untuk memenuhi kebutuhan struktural fitur, Cody Cates adalah pengganti Dustin Camp, pemuda berusia 17 tahun yang menjatuhkan Deneke .)

Di sini, Cody diwakili oleh pertahanan pengacara (Glenn Morshower , mantan pengacara West Texas di Friday Night Lights) yang tanpa malu-malu mempermainkan prasangka juri, melukis punk sebagai penjahat yang kejam dan lawan mereka sebagai pilar komunitas yang bertakwa dan bersih.

Meskipun film ini mungkin sedikit bersandar pada penyebaran rasa takut ini (atau mungkin tidak, mengingat bagaimana persidangan berakhir), sekali lagi dengan mudah menunjukkan kebenaran yang diabaikan oleh pembela memotong dari pengadilan ke adegan pesta pora tim sepak bola yang penuh kekerasan.

Saat polisi setempat dipanggil ke api unggun mabuk tim, mereka membubarkan pesta dengan lembut; ketika mereka menangkap dua bajingan yang menandai sebuah bangunan, mereka merespons dengan unjuk kekuatan yang hampir seperti SWAT.

Tanpa melukis punk sebagai malaikat yang disalahpahami, Brooks melakukan semua yang dia bisa untuk memanusiakan Brian. Kami melihat kunjungan ceria dengan orang tuanya, kotak yang menggodanya tentang rambutnya dan resah tentang nama bandnya; kami menonton Brian dan pacarnya ( Maemae Renfrow ) memilih seekor anak anjing dari kandang, lalu bermain-main saat matahari terbenam di belakang Peternakan Cadillac Amarillo yang terkenal.

Tetapi penampilan Davis, hangat dan energik, membuat banyak dari ini tidak diperlukan. Pada saat kami sampai di tempat parkir itu, di mana Brian menghadapi atlet yang telah mengalahkan temannya (Henry Knotts ), kami sangat ingin mengantisipasi kematian pemuda itu.

Menempatkan kamera di mobil Cody, Brooks tidak menjadikan pembunuhnya sebagai penjahat satu dimensi. Dia menunjukkan keberaniannya dan keterkejutan penumpangnya saat Cadillac melaju langsung ke arah perkelahian; saat mereka melaju menjauh dari tempat kejadian begitu Brian sekarat, Shelton membiarkan kesadaran diri yang membingungkan dan kepanikan mencemari adrenalin Cody. Kisah Bomb City tentang tragedi malam ini menjadi favorit, seperti halnya pengacara pembela. Tapi tidak seperti pengacara itu, tidak harus berpura-pura penjahatnya adalah monster yang tidak manusiawi untuk membuat kasusnya.

“ Bom City ,” sebuah drama yang sangat memukau oleh pembuat film fitur pertama kali Jameson Brooks , memutar kisah tragis dari bentrokan budaya punk-versus-atlet yang terus berkembang menjadi pertengkaran hebat, dengan konsekuensi mematikan.

Dalam sinopsis, ini mungkin terdengar seperti versi terbaru dari “The Outsiders,” novel SE Hinton tahun 1967 yang sangat populer, yang diadaptasi oleh Francis Coppola pada tahun 1983 dengan pemeran impian para pendatang baru. Tapi film Brooks, yang ditulis bersama sutradara dengan Sheldon R. Chick, sebenarnya berakar pada peristiwa kehidupan nyata hampir dua dekade lalu, dan bisa dibilang memotong lebih dalam karena secara metodis dan tanpa henti membentuk rangkaian tindakan dan dampak.

Judul yang tepat mengacu pada julukan ironis yang diberikan Amarillo, Texas, tempat satu-satunya pabrik perakitan dan pembongkaran senjata nuklir di Amerika Serikat. Tetapi sebagian besar film menunjukkan makna lain: Pada tahun 1999, dua kelompok remaja Amarillo yang bermusuhan pemain sepak bola sekolah menengah yang bersih di satu sisi, rocker punk pemberontak yang berani di sisi lain terlibat dalam perang dingin yang tampaknya selalu hanya satu. pertemuan di luar kendali jauh dari kekacauan berdarah.

Sejak awal, Brooks yang, bukan kebetulan, tumbuh di Amarillo, dan merekam film ini di sana menandakan ledakan yang tak terhindarkan dengan adegan sporadis dari persidangan pembunuhan setelah fakta. Seorang pengacara pembela yang merasa benar sendiri (Glenn Morshower) melakukan yang terbaik untuk menjelekkan rocker punk yang telah meninggal sebagai ancaman bagi masyarakat yang “ditakdirkan” untuk dibunuh oleh beberapa warga terhormat (seperti klien pengacara) untuk melindungi warga negara yang baik dari hal tersebut. hama.

Penonton mendapatkan pandangan yang jauh lebih adil setiap kali “Kota Bom” berkedip kembali dari ruang sidang. Brooks menawarkan saran menggoda terutama, selama urutan yang memotong slamdancing brutal di mosh pit dengan sepak bola Jumat malam kontak penuh bahwa dua lingkaran sosial yang tampaknya berbeda mungkin bersinggungan lebih sering daripada yang bisa dibayangkan siapa pun. Dan sementara simpati film jelas terbebani ke arah kontingen punk, Brooks tidak membiarkan kelompok mana pun pergi dengan mudah: Di kedua kubu, setidaknya ada satu pemarah yang sembrono dengan kecenderungan berbahaya untuk menyalakan sekering.

Saat “Bomb City” berlanjut, Brian (diperankan dengan baik oleh Dave Davis ), seorang penyair punk dengan gaya rambut Mohawk yang mengamuk dan hubungan yang sangat dekat dengan orang tuanya yang pengasih, muncul sebagai protagonis dari karya tersebut. Di sisi lain dari kesenjangan budaya, ada Cody ( Luke Shelton ), seorang pemain sepak bola macho-defisiensi yang menanggung ejekan tanpa ampun dari rekan-rekannya yang lebih bersemangat dan peminum berat, dan mencoba sedikit terlalu keras untuk menjadi seburuk yang dia inginkan. menjadi.

Ada tanda-tanda bahwa keduanya dimaksudkan untuk tampil sebagai tandingan yang sama pentingnya. Sayangnya, terlepas dari performa permainan Shelton, karakternya terlalu samar dikembangkan untuk memiliki bobot dramatis yang seharusnya. Mungkin akan membantu jika dia memiliki lebih banyak waktu layar atau setidaknya adegan membangun simpati yang setara dengan adegan di mana Brian dan pacarnya, Jade (Maemae Renfro), mengadopsi anak anjing yang lucu.

Ya, Anda membacanya dengan benar: Mereka membawa pulang seekor anjing kecil yang manis. Itu adalah salah satu dari sedikit sentuhan berat dalam “Bomb City”, sebuah film yang sebagian besar berhasil menghindari klise sambil membangkitkan dan mempertahankan, bahkan selama adegan yang relatif ringan, rasa takut yang lembap.

Brooks menunjukkan apresiasi naluriah untuk tombol apa yang harus ditekan dan tuas apa yang harus ditarik untuk meningkatkan ketegangan, terutama ketika pengejaran polisi terhadap seniman grafiti secara bertahap meningkat menjadi skenario terburuk. Suasana firasat yang berlebihan secara diam-diam diintensifkan oleh skor musik dingin yang dikreditkan ke penulis naskah Sheldon R. Chick dan saudaranya, Cody Chick, dan oleh pelensaan yang menggugah dari Jake Wilganowski.

Review Film Salt of the Earth (1954 film)
Film Review Trailer

Review Film Salt of the Earth (1954 film)

Review Film Salt of the Earth (1954 film) – Salt of the Earth adalah sebuah film drama Amerika Serikat tahun 1954ditulis oleh Michael Wilson , disutradarai oleh Herbert J. Biberman , dan diproduksi oleh Paul Jarrico . Semua telah masuk daftar hitam oleh perusahaan Hollywood karena dugaan keterlibatan mereka dalampolitik komunis.

Review Film Salt of the Earth (1954 film)

coalcountrythemovie – Film drama adalah salah satu gambar pertama yang memajukan sudut pandang sosial dan politik feminis . Plotnya berpusat pada pemogokan yang panjang dan sulit , berdasarkan pemogokan tahun 1951 terhadap Empire Zinc Company di Grant County, New Mexico .

Baca Juga : Pale Rider Merupakan Sebuah Film Yang DiBintangin Oleh Clint Eastwood

Dalam film tersebut, perusahaan tersebut diidentifikasi sebagai “Delaware Zinc”, dan latarnya adalah “Zinctown, New Mexico”. Film ini menunjukkan bagaimana para penambang, perusahaan, dan polisi bereaksi selama pemogokan. Dalam gaya neorealis , produser dan sutradara menggunakan penambang yang sebenarnya dan keluarga mereka sebagai aktor dalam film tersebut.

Alur

Esperanza Quintero ( Rosaura Revueltas ) adalah istri penambang di Zinc Town, New Mexico , sebuah komunitas yang pada dasarnya dijalankan dan dimiliki oleh Delaware Zinc Inc. Esperanza berusia tiga puluh lima tahun, hamil anak ketiga dan secara emosional didominasi olehnya suaminya, Ramon Quintero (Juan Chacon). Mayoritas penambang adalah orang Meksiko-Amerika dan menginginkan kondisi kerja yang layak setara dengan pekerja kulit putih , atau ” Anglo “. Para pekerja yang tergabung dalam serikat pekerja melakukan pemogokan , tetapi perusahaan menolak untuk bernegosiasi dan kebuntuan berlanjut selama berbulan-bulan. Esperanza melahirkan dan, secara bersamaan, Ramon dipukuli oleh polisi dan dipenjara atas tuduhan penyerangan palsu menyusul pertengkaran dengan seorang pekerja serikat yang mengkhianati rekan-rekannya. Ketika Ramon dibebaskan, Esperanza mengatakan kepadanya bahwa dia tidak baik padanya di penjara. Dia membalas bahwa jika pemogokan berhasil mereka tidak hanya akan mendapatkan kondisi yang lebih baik saat ini tetapi juga memenangkan harapan untuk masa depan anak-anak mereka.

Perusahaan mengajukan perintah Taft-Hartley Act kepada serikat pekerja, yang berarti setiap penambang yang melakukan tindakan piket akan ditangkap. Mengambil keuntungan dari celah, para istri piket di tempat suami mereka. Beberapa pria tidak menyukai ini, melihatnya sebagai tidak pantas dan berbahaya. Esperanza dilarang piket oleh Ramon pada awalnya, tetapi dia akhirnya bergabung dengan barisan sambil menggendong bayinya.

Sheriff, atas perintah perusahaan, menangkap para wanita pemimpin pemogokan. Esperanza termasuk di antara mereka yang dibawa ke penjara. Ketika dia kembali ke rumah, Ramon mengatakan kepadanya bahwa pemogokan tidak ada harapan, karena perusahaan akan dengan mudah hidup lebih lama dari para penambang. Dia bersikeras bahwa serikat lebih kuat dari sebelumnya dan bertanya kepada Ramon mengapa dia tidak bisa menerima dia sebagai setara dalam pernikahan mereka. Keduanya marah, mereka tidur terpisah malam itu.

Keesokan harinya perusahaan mengusir keluarga Quintero dari rumah mereka. Serikat pekerja laki-laki dan perempuan datang untuk memprotes penggusuran. Ramon memberi tahu Esperanza bahwa mereka semua bisa bertarung bersama. Massa pekerja dan keluarga mereka terbukti berhasil menyelamatkan rumah keluarga Quinteros. Perusahaan mengakui kekalahan dan berencana untuk bernegosiasi. Esperanza percaya bahwa komunitas telah memenangkan sesuatu yang tidak dapat diambil oleh perusahaan mana pun dan itu akan diwarisi oleh anak-anaknya.

Pemeran

Aktor profesional

  • Rosaura Revueltas sebagai Esperanza Quintero
  • Will Geer sebagai Sheriff
  • David Bauer sebagai Barton (sebagai David Wolfe)
  • Mervin Williams sebagai Hartwell
  • David Sarvis sebagai Alexander

Aktor non-profesional

  • William Rockwell sebagai Kimbrough
  • Floyd Bostick sebagai Jenkins
  • dan anggota lain dari Mine-Mill Local 890

Produksi

Film tersebut disebut ‘subversif’ dan masuk daftar hitam karena International Union of Mine, Mill and Smelter Workers mensponsorinya dan banyak profesional Hollywood yang masuk daftar hitam membantu memproduksinya. Serikat pekerja telah dikeluarkan dari CIO pada tahun 1950, karena dugaan dominasi kepemimpinannya oleh komunis.Sutradara Herbert Biberman adalah salah satu penulis skenario dan sutradara Hollywood yang menolak menjawab Komite DPR tentang Kegiatan Tidak-Amerika pada tahun 1947 tentang pertanyaan afiliasi dengan Partai Komunis AS . The Hollywood Ten dikutip dan dihukum karena menghina Kongres dan dipenjara. Biberman dipenjarakan di Lembaga Pemasyarakatan Federal di Texarkana selama enam bulan. Setelah dibebaskan, dia menyutradarai film ini. Peserta lain yang membuat film tersebut dan masuk daftar hitam oleh studio Hollywood meliputi: Paul Jarrico, Will Geer, Rosaura Revueltas, dan Michael Wilson.

Produser hanya memilih lima aktor profesional. Sisanya adalah penduduk lokal dari Grant County, New Mexico , atau anggota International Union of Mine, Mill and Smelter Workers, Local 890, banyak di antaranya adalah bagian dari pemogokan yang mengilhami plot tersebut. Juan Chacón, misalnya, dalam kehidupan nyata adalah presiden serikat pekerja lokal. Dalam film tersebut ia berperan sebagai protagonis , yang memiliki kesulitan berurusan dengan wanita secara setara. Sutradara enggan untuk memilih dia pada awalnya, berpikir dia terlalu “lembut”, tetapi baik Revueltas dan ipar direktur, Sonja Dahl Biberman, istri saudara Biberman Edward , mendesaknya untuk memilih Chacón sebagai Ramon.

Film tersebut dikecam oleh Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat karena simpati komunisnya, dan FBI menyelidiki pendanaan film tersebut. Legiun Amerika menyerukan boikot nasional terhadap film tersebut. Setelah malam pembukaannya di New York City, film tersebut terhenti selama 10 tahun karena semua kecuali 12 bioskop di negara tersebut menolak untuk menayangkannya. Menurut salah satu akun jurnalis: “Selama produksi di New Mexico pada tahun 1953, pers perdagangan mencelanya sebagai plot subversif, warga anti-Komunis menembakkan senapan ke lokasi syuting, wanita utama film Rosaura Revueltas dideportasi ke Meksiko, dan dari waktu ke waktu sebuah pesawat kecil berdengung dengan berisik di atas Film, yang diedit secara rahasia, disimpan untuk diamankan di sebuah gubuk kayu anonim di Los Angeles.”

Pale Rider Merupakan Sebuah Film Yang DiBintangin Oleh Clint Eastwood
Film Review Trailer

Pale Rider Merupakan Sebuah Film Yang DiBintangin Oleh Clint Eastwood

Pale Rider Merupakan Sebuah Film Yang DiBintangin Oleh Clint Eastwood – Pale Rider adalah film fantasi Barat Amerika 1985yang diproduksi dan disutradarai oleh Clint Eastwood , yang juga membintangi peran utama. Judulnya mengacu pada Empat Penunggang Kuda dari Kiamat , karena penunggang kuda pucat (Eastwood) mewakili Kematian . Film tersebut, yang meraup lebih dari $41 juta di box office, menjadi film Barat dengan pendapatan kotor tertinggi pada 1980-an.

Pale Rider Merupakan Sebuah Film Yang DiBintangin Oleh Clint Eastwood

Alur

coalcountrythemovie – Di luar kota pegunungan bersalju LaHood, California, orang-orang bersenjata yang bekerja untuk baron pertambangan Coy LaHood menghancurkan kamp pencari independen dan keluarga mereka. Salah satunya menembak seekor anjing milik Megan Wheeler yang berusia 14 tahun. Setelah mengubur anjingnya di hutan, dia berdoa, meminta pembebasan kepada Tuhan, “Jika Anda tidak membantu kami, kami semua akan mati. Tolong, hanya satu keajaiban.” Guntur menggelegar, dan seorang penunggang kuda sendirian menunggangi kuda pucat yang halus, muncul, menungganginya dengan mudah tetapi dengan tujuan yang tak terhindarkan menuju Lembah Karbon.

Baca Juga : Mengulas Lebih Jauh Tentang Film The Proud Valley

Ibu Megan, Sarah, sedang dirayu oleh Hull Barret, yang turun tangan ketika ayah Megan meninggalkan mereka. Ketika Hull pergi ke kota untuk mengambil persediaan, empat anak buah Lahood memukulinya dengan gagang kapak sebelum orang asing itu menghajar mereka. Hull kemudian mengundang penyelamatnya untuk makan malam dan, saat orang asing itu sedang mencuci, memperhatikan apa yang tampak seperti enam luka peluru di punggungnya. Ketika orang asing itu tiba di meja makan, dia mengenakan kerah klerus dan kemudian disebut sebagai “Pengkhotbah”.

Putra Coy LaHood, Joshua, mencoba menakuti Pengkhotbah dengan unjuk kekuatan dari seorang pekerja bernama Club, yang memecahkan batu besar menjadi dua dengan satu pukulan palu dan kemudian mencoba menyerangnya. Pengkhotbah menyerang Klub di wajah dan selangkangan, sebelum dengan lembut membantunya naik ke kudanya dan mengirim kedua pria itu pergi. Setelah itu, para penambang bekerja sama untuk menghancurkan sisa bongkahan batu dan menambang isinya.

Sementara itu, Coy kembali dari Sacramento dan sangat marah mengetahui kedatangan Pengkhotbah, menyadari bahwa kehadirannya hanya akan memperkuat tekad para pencari emas untuk mempertahankan klaim mereka. Gagal menyuap dan mengancam Pengkhotbah, LaHood dibujuk untuk menawarkan para penambang $1.000 per klaim asalkan mereka mengungsi dalam waktu 24 jam. LaHood mengatakan dia berencana untuk menyewa jasa seorang marshal korup bernama Stockburn untuk membersihkan mereka jika mereka menolak. Para penambang awalnya mempertimbangkan tawaran itu tetapi, ketika Hull mengingatkan mereka tentang tujuan dan pengorbanan mereka, mereka memutuskan untuk tetap bertahan dan bertarung.

Keesokan paginya, Pengkhotbah pergi tanpa pemberitahuan, mengambil dua revolvernya dari kotak bank, dan menggantinya dengan kerahnya. Sementara itu, para penambang menemukan bahwa anak buah LaHood telah membendung sungai yang mengalir melalui kamp mereka. Mereka setuju untuk tinggal selama dua hari lagi dan melanjutkan panning dasar sungai pengeringan. Megan naik ke kamp penambangan LaHood, tempat Joshua mencoba memperkosanya sementara pekerja lain menyemangatinya. Pengkhotbah tiba dengan menunggang kuda dan menyelamatkan Megan, melucuti senjata Joshua dan menembaknya melalui tangan ketika dia menarik senjatanya.

Stockburn dan enam wakilnya tiba di LaHood. Coy memberinya gambaran kasar tentang Pengkhotbah, yang mengejutkan Stockburn. Ketika Coy menekannya, dia mengatakan Pengkhotbah mengingatkannya pada seorang pria yang pernah dia kenal, tetapi itu tidak mungkin orang yang sama karena pria yang dia kenal sudah mati.

Spider Conway, salah satu penambang dan mitra lama Coy dari belakang ketika dia pertama kali mulai mencari, menemukan bongkahan emas besar dan naik ke kota, di mana dia meneriakkan pelecehan mabuk di LaHood dari jalan. Stockburn dan para deputinya menembak jatuh dia, dan Stockburn memberitahu anak-anak Laba-laba untuk membawa tubuh ayah mereka kembali ke kamp dan memberitahu Pengkhotbah untuk menemuinya di kota keesokan paginya. Sarah pergi ke gudang tempat Pendeta tinggal, memintanya untuk tidak pergi. Dia menolak, dan dia mencium dia mengatakan bahwa dia berniat untuk menikahi Hull meskipun perasaannya untuk Pengkhotbah.

Hari berikutnya, Pengkhotbah dan Hull meledakkan lokasi penambangan LaHood dengan dinamit. Untuk menghentikan Hull mengikutinya, Pengkhotbah menakut-nakuti kuda Hull dan pergi ke kota sendirian. Dalam tembak-menembak berikutnya, dia membunuh semua kecuali dua anak buah LaHood yang melarikan diri, dan kemudian, satu per satu, keenam deputi Stockburn saat mereka menyebar ke seluruh kota mencarinya. Ketika dia bertatap muka dengan Stockburn, Stockburn mengenalinya dengan tidak percaya dan mengambil senjatanya. Pengkhotbah menarik lebih dulu, mengirimkan enam peluru melalui tubuhnya sebelum menembak kepalanya. LaHood, mengawasi dari kantornya, mengarahkan senapan ke Pengkhotbah tetapi terkejut dan ditembak mati oleh Hull.

Pendeta itu mengangguk pada Hull dan berkata, “Jalan jauh”, sebelum memimpin kudanya dari istal dan menungganginya menuju pegunungan yang tertutup salju. Megan, yang sebelumnya telah ditolak oleh Pengkhotbah ketika dia mengakui keinginannya untuk menikah dengannya, terlambat ke kota dan meneriakkan cinta dan terima kasihnya kepada Pengkhotbah. Kata-katanya bergema melalui ngarai saat dia pergi.

Pemeran

  • Clint Eastwood sebagai Pengkhotbah
  • Michael Moriarty sebagai Hull Barret
  • Carrie Snodgress sebagai Sarah Wheeler
  • Richard Dysart sebagai Coy LaHood
  • Chris Penn sebagai Josh LaHood
  • Sydney Penny sebagai Megan Wheeler
  • John Russell sebagai Marshal Stockburn
  • Richard Kiel sebagai “Klub”
  • Doug McGrath sebagai “Spider” Conway
  • Chuck Lafont sebagai Eddie Conway
  • Billy Drago sebagai Wakil Mather
  • Jeffrey Weissman sebagai Teddy Conway
  • Charles Hallahan sebagai McGill
  • Marvin J. McIntyre sebagai Jagou
  • Fran Ryan sebagai Ma Blankenship
  • Richard Hamilton sebagai Pa Blankenship
  • Terrence Evans sebagai Jake Henderson

Produksi

Pale Rider terutama difilmkan di Pegunungan Boulder dan Area Rekreasi Nasional Sawtooth di Idaho tengah , tepat di utara Sun Valley pada akhir 1984. Adegan kredit pembuka menampilkan Pegunungan Sawtooth yang bergerigi di selatan Stanley . Adegan stasiun kereta difilmkan di Tuolumne County, California , dekat Jamestown. Adegan kota Gold Rush yang lebih mapan (di mana karakter Eastwood mengambil pistolnya di kantor Wells Fargo) difilmkan di kota Gold Rush yang sebenarnya , Columbia , juga di Tuolumne County.

Mengulas Lebih Jauh Tentang Film The Proud Valley
Film Review Trailer

Mengulas Lebih Jauh Tentang Film The Proud Valley

Mengulas Lebih Jauh Tentang Film The Proud Valley – The Proud Valley adalah sebuah film Ealing Studios tahun 1940yang dibintangi oleh Paul Robeson . Difilmkan di ladang batu bara South Wales , area pertambangan batu bara utama Welsh, film ini berkisah tentang seorang pelaut yang bergabung dengan komunitas pertambangan. Ini termasuk semangat mereka untuk menyanyi serta bahaya dan kegentingan bekerja di tambang.

Mengulas Lebih Jauh Tentang Film The Proud Valley

Alur

coalcountrythemovie – David Goliath adalah seorang pelaut Afrika-Amerika yang meninggalkan kapalnya ketika tiba di Wales. Dia naik ke bagian belakang kereta barang dan bertemu Bert, yang pemalu bekerja dan mencemooh tekad David untuk mencari pekerjaan. Kereta tiba di kota pertambangan kecil dan kedua pria itu mencoba mengamen sebentar sebelum dimarahi oleh Nyonya Parry karena membuat kebisingan yang tidak menyenangkan di luar tokonya. Mereka berhenti di luar sebuah gedung tempat paduan suara pria sedang berlatih dan David mulai bernyanyi bersama.

Baca Juga : Review Film Blind Shaft

Konduktor paduan suara, Dick Parry, bertekad untuk menjadikan David anggota dan menawarkan penginapan di rumahnya. Meskipun istrinya, Nyonya Parry, menolak gagasan itu, protesnya diperdebatkan ketika putra dan putri mereka berpihak pada ayah mereka. Dick memberi David pekerjaan sebagai penambang untuk bekerja bersamanya dan putra sulungnya Emlyn, banyak keberatan rasis dari salah satu pekerja, tetapi Dick dan David secara tidak sengaja menambang dekat dengan gas , menyebabkan kebakaran , di mana banyak penambang binasa. Emlyn tidak ada di lokasi pagi itu dan bergegas ke tambang sebagai penyelamat; David membawa Dick keluar dari api tetapi tidak dapat menyelamatkannya.

Sebulan kemudian, paduan suara Dick muncul di sebuah kompetisi tetapi hanya David yang tampil untuk mengenang Dick. Tambang telah ditutup sejak bencana dan sisa penambang harus mengumpulkan batu bara dari atas tumpukan jarahan, tetapi mereka tidak dapat menghasilkan jumlah uang yang sama dengan yang telah dibayarkan tambang kepada mereka dan banyak yang harus mengklaim sosial manfaat . Setahun kemudian, Nyonya Parry berjuang dengan lima anak untuk dirawat dan dikunjungi oleh Nyonya Owen — ibu dari tunangan Emlyn, Gwen — yang membentak bahwa Gwen tidak diizinkan menikahi Emlyn karena dia tidak dapat menghasilkan cukup uang untuk merawatnya.

Gwen kemudian menyelinap ke rumah Parry dan memberi tahu Emlyn bahwa dia akan menikah dengannya berapa pun penghasilannya, yang memberi Emlyn ide untuk berbaris ke London.dan menuntut pemerintah membuka kembali tambang. Emlyn membawa David dan dua penambang lainnya dan mereka berjalan ke London, dan tiba sehari setelah Jerman menginvasi Polandia . Pemerintah Inggris sibuk memusatkan perhatian pada membangun tentara dan membuka kembali tambang untuk mengusir para penghancur gerbang.

Tim kembali ke Wales dan berusaha untuk membuka kembali tambang, tetapi kebakaran besar menyebabkan tambang runtuh yang menjebak tim di dalamnya. Lilin mereka berkedip, menunjukkan oksigen menghilang dan David memperkirakan mereka memiliki waktu satu jam lagi sampai mati lemas . Seorang penambang menemukan batu yang lemah dan mencoba menerobos dengan kapak tetapi dia dan David gagal.

Emlyn memutuskan untuk meninggalkan grup untuk meledakkan jalan keluar dengan dinamit, tetapi, mengetahui bahwa itu dapat menyebabkan kematian Parry lainnya, David menyelinap pergi saat anggota tim lainnya berdoa dan meninju Emlyn hingga pingsan, mengaktifkan dinamit dan menembus batu. Dua penambang lainnya membangunkan Emlyn, menemukan tubuh David yang tak bernyawa di dekatnya dan berdoa untuk jiwa David. Tambang dibuka kembali dan kota bernyanyi serempak saat batu bara diangkut melalui tambang.

Pemeran

  • Paul Robeson sebagai David Goliat
  • Edward Chapman sebagai Dick Parry
  • Simon Lack sebagai Emlyn Parry
  • Rachel Thomas sebagai Nyonya Parry
  • Dilys Thomas sebagai Dilys
  • Edward Rigby sebagai Bert
  • Janet Johnson sebagai Gwen Owen
  • Charles Williams sebagai Evans
  • Jack Jones sebagai Thomas
  • Dilys Davies sebagai Nyonya Owen
  • Clifford Evans sebagai Seth Jones
  • Allan Jeayes sebagai Tuan Trevor
  • George Merritt sebagai Tuan Lewis
  • Edward Lexy sebagai Komisaris
  • Noel Howlett sebagai pegawai Perusahaan
  • Ben Williams sebagai Will Morgan (tidak disebutkan)

Produksi

Dari perawatan berjudul David Goliath oleh tim penulis menikah Herbert Marshall dan Fredda Brilliant , teman-teman Robeson di Highgate dan Moskow, naskah The Proud Valley ditulis oleh Louis Golding dengan bantuan novelis Jack Jones. Peran Robeson didasarkan pada petualangan kehidupan nyata seorang penambang kulit hitam dari Virginia Barat yang hanyut ke Wales melalui Inggris , mencari pekerjaan. Setelah dua tahun menolak tawaran dari studio besar, Robeson setuju untuk tampil dalam produksi independen Inggris ini, melihat (ia memberi tahu The Glasgow Sentinel) kesempatan untuk “menggambarkan Negro apa adanya—bukan karikatur yang selalu diwakilinya. untuk tampil di layar.” Syuting selesai pada September 1939 tetapi produser Michael Balcon dan sutradara Pen Tennyson terpaksa memotong ulang akhir film dalam suasana jingoistik baru setelah pecahnya perang. Sebuah akhir di mana para pekerja mengambil alih tambang digantikan dengan adegan di mana manajemen setuju untuk memberikan konsesi kepada para penambang.

Rilis

Pada bulan Desember 1939, film tersebut secara tidak resmi ditayangkan di Neath Port Talbot dan, menurut artikel surat kabar pada saat itu, diterima dengan baik oleh penonton Welsh yang mengomentari keaslian latar belakang dan detailnya. Film pertama yang tayang perdana di radio, pada tanggal 25 Februari 1940, The Proud Valley pertama kali diputar ke pemesan perdagangan & bioskop pada tanggal 9 Januari 1940 sebelum dibuka untuk umum di layar nasional, termasuk Birmingham Gaumont dan Middlesbrough Hippodrome , dari 3 Maret 1940 dan seterusnya, dan di London di Leicester Square Theatre pada tanggal 8.

1 2 3 4